Jaringan Narkoba Diduga Bekerja di Lapas Bollangi. Meity Desak Ditjen Pemasyarakatan Bertindak Tegas

Anggota Komisi XIII DPR RI dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Dr Hj Meity Rahmatia mendesak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan meningkatkan integritasnya dan bekerja keras dalam memberantas jaringan Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan.

Hal ini ia tegaskan setelah mendapat kabar penangkapan sejumlah pelaku penyalagunaan Narkoba di Tana Toraja yang dikaitkan dengan jaringan Lapas Narkotika di Bollangi, Kabupaten Gowa.

“Saya mendesak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan agar bekerja serius. Bongkar jaringan ini. Seluruh petugas yang terbukti terkait dibina. Dan kalau tidak bisa lagi dibina, dipecat. Pemerintah harus menunjukkan sikap tegasnya dalam pemberantasan Narkoba,” katanya.

Penangkapan tersebut merupakan hasil kerja cepat tim BNNK Toraja yang mencakup wilayah kerja Enrekang, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Tim melakukan observasi lapangan selama empat hari, dimulai sejak Senin (23/3/26) hingga Kamis (26/3/26).

Dari tujuh orang yang diamankan, satu di antaranya berinisial K, seorang perempuan muda yang diketahui sebagai tenaga kontrak di kantor BPS Gereja Toraja. Ia diduga masuk dalam jaringan peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas Narkotika Kelas IIB Sungguminasa atau Lapas Bollangi, Kabupaten Gowa.

Dengan hal tersebut Meity Rahmatia sangat menyayangkan ada dugaan jaringan ini. Ia mengatakan masalah ini sebagai bahan evaluasi terhadap program zero Narkoba dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

“Selain menyampaikan langsung ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan di Sulsel. Insya Allah, saya akan membawa masalah ini ke rapat Komisi XIII dan berusaha menghadirkan kembali mitra-mitra terkait, terutama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan,” ungkapnya.

Menyusul kasus, sejumlah tuntutan kini muncul dari masyarakat, yaitu mendesak agar Kepala Lapas Bollangi dicopot. Sebagaimana beredar luas di platform media sosial yang diantaranya datang dari Ketua Jaringan Anti Narkoba (JAN) Sulawesi Selatan, Muhammad Akbar dengan tegas mengatakan bahwa pengawasan dan pengendalian Narkoba di Lapas Bollangi telah gagal. Bahkan terkesan ditutupi.

“Jangan lagi ada upaya menutup-nutupi. Kejadian ini membuka tabir yang selama ini disembunyikan. Jika praktik seperti ini terus berulang, maka patut diduga ada pembiaran, atau bahkan sesuatu yang lebih sistematis didalam,” tegasnya.

Sebagaimana dikutip oleh media lokal di platform media sosial. Aktivis itu bahkan menduga jaringan Narkoba di Lapas Bollangi melibatkan orang lama.

“Negara tidak boleh kalah oleh jaringan Narkoba yang diduga tumbuh dari dalam Lapas. Dan ini bukan pelanggaran hukum biasa melainkan bentuk kemunduran serius dalam pemberantasan Narkoba,” tukasnya.

Sejalan dengan Akbar, Meity juga mencurigai jaringan Narkoba di Lapas Bollangi melibatkan banyak pihak, termasuk petugas dalam Lapas karena nyaris tak terendus publik.

“Kalau tidak ada penangkapan pelaku penyalagunaan di Tana Toraja itu kan, kasus ini tidak akan muncul ke publik. Saya bahkan yang pernah masuk ke Lapas terkait melihat kondisi di sana seperti semuanya normal-normal saja. Ini akan jadi bahan catatan bagi saya,” pungkas politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut.(kas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *