Daerah  

Miris! Lansia Sebatang Kara di Gowa Tinggal Seatap dengan Ayam, Tanpa WC

Daeng Gassing S (61), hidup sebatang kara dalam kondisi memprihatinkan di Dusun Tanetea, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Gowa, Radarmakassar.id – Seorang lansia, Daeng Gassing S (61), hidup sebatang kara dalam kondisi memprihatinkan di Dusun Tanetea, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Ia bertahan di rumah kecil yang nyaris ambruk tanpa fasilitas dasar seperti WC.

Rumah berukuran sekitar 4×6 meter yang ditempatinya jauh dari kata layak. Sebagian bangunan telah lapuk dimakan usia, bahkan di dalamnya ia harus berbagi ruang dengan ayam yang setiap malam naik ke bagian atas rumah.

Di bagian dapur, kondisi lantai dan dinding dari anyaman bambu tampak rusak parah dan hampir roboh. Fasilitas WC pun tidak tersedia, membuat aktivitas sehari-hari menjadi sangat terbatas.

Bangunan sederhana itu bukan hasil usahanya sendiri, melainkan didirikan oleh ponakannya dari Maros sekitar dua dekade lalu.

“Kalau saya tinggal di sini sekitar 20 tahun. Cuma sendiri. Ponakan orang Maros, yang bangunkan rumah,” ucapnya dengan dialek bahasa Makassar, Selasa (5/5/2027).

Selama kurang lebih dua dekade, ia menjalani hari tua seorang diri tanpa kehadiran keluarga inti. Dahulu, ia masih bisa bekerja sebagai buruh tani, mencangkul di sawah milik warga untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun kini, kondisi kesehatannya yang menurun membuatnya tidak lagi mampu bekerja.

“Sudah tidaka ada yang bisa saya kerja. Dulu biasa dipanggil mencangkul kalau ada kerja sawah. Tapi sekarang sudah tua, tidak bisa bekerja. Jadi tinggal di rumah,” ucapnya.

Hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan di dalam rumah dengan kondisi serba terbatas. Untuk kebutuhan makan, ia kerap bergantung pada bantuan dari tetangga dan keluarga yang masih peduli.

“Biasa habis beras. Yang bawa tetangga. Cucu dari saudara yang bawakan. Kalau saya tidak meminta, cuma masih ada yang peduli,” ungkap Daeng Gassing.

Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap berusaha menjaga martabatnya dengan tidak meminta-minta.

“Saya memang membutuhkan bantuan. Tapi saya tidak meminta-minta,” tukasnya.

Saat bahan makanan habis, ia hanya mendatangi kerabat untuk memberi isyarat bahwa dirinya tidak bisa memasak.

“Alhamdulillah umpamanya habis beras, ada lagi yang bawa. Itupun kalau habis beras saya pergi ke rumahnya saudara. Saya cuma bilang tidak memasaka,” ujarnya lirih.

Terkait bantuan pemerintah, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti program yang pernah menyentuh dirinya.

“Saya tidak tahu kecuali saat itu pak desa yang panggil pergi terima (BLT), tapi saya tidak bisa bangun (saat itu sakit),” terangnya.

Ia hanya mengingat pernah menerima bantuan berupa beras dan kebutuhan pokok lainnya, namun itu sudah lama.

“Jadi saat itu ada anaknya yang bawakan beras. Putih sekali berasnya satu karung, mie, sabun dan minyak. Tapi itu sudah lama,” sebutnya.

Terakhir, ia mendapatkan bantuan dari UPZ Pemprov Sulsel pada tahun 2023. Selebihnya, ia menjalani hidup tanpa kepastian bantuan rutin.

Ketiadaan WC menjadi persoalan lain yang dihadapinya sehari-hari. Ia mengaku belum pernah menerima bantuan pembangunan fasilitas tersebut.

“Iye tidak ada. Orang biasa bilang ada bantuan WC tapi tidak pernah ada. Banyak pergi foto di rumah tapi tidak ada yang jadi seperti bedah rumah. Yang saya ingat ada kasih bantuan seng untuk penutup dinding,” ucapnya.

Tanpa fasilitas tersebut, ia terpaksa buang air besar di belakang rumah.

Di dalam rumahnya, kondisi juga tak kalah memprihatinkan karena harus berbagi ruang dengan ayam yang bertengger di bagian atas bangunan setiap malam.

“Di atas situ ayam kalau malam (menunjuk bagian atas rumah). Saya di sini tidur. Ayam di atas bagian luar sedikit di saluran,” ungkapnya.

Perhatian dari keluarga masih ada, salah satunya dari cucu saudaranya, Darmadi Daeng Mile (40), yang kerap mengajaknya tinggal bersama.

“Sering kita panggil ke rumah tinggal, tapi dia tidak mau. Padahal dia di sini sendiri. Rumahnya juga tidak terurus” ujarnya.

Namun, Daeng Gassing tetap memilih bertahan di rumah tersebut.

“Jadi dia sama tinggal dengan ayamnya,” singkatnya.

Sepanjang hidupnya, ia belum pernah menikah sehingga tidak memiliki istri maupun anak.

“Tidak ada, belum pernah punya istri. Jadi yang perhatikan itu ponakan sama cucunya saja dari saudaranya,” kata Darmadi.

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap kondisi Daeng Gassing masih sangat minim, terutama untuk kebutuhan dasar seperti WC maupun bantuan sembako.

“Beginimi kondisinya. Dari pemerintah juga kurang perhatian. Apalagi kan banyak bantuan WC, tapi dia tidak ada bantuan WC. Kalau mau buang air besar langsung ke belakang rumah,” pungkasnya. (nca)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *