Radarmakassar.id – Masalah sampah di wilayah pesisir merupakan salah satu isu lingkungan yang perlu mendapat perhatian, pasalnya kawasan pesisir sering kali menjadi lokasi akhir pembuangan limbah rumah tangga maupun aktivitas usaha, baik dalam bentuk sampah anorganik seperti plastik, botol, logam, maupun sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan.
Permasalahan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologis, tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat dan keberlanjutan aktivitas ekonomi berbasis kelautan. Ketidakmampuan sistem pengelolaan sampah formal maupun nonformal dalam menjangkau kawasan pesisir menyebabkan terjadinya akumulasi sampah di sepanjang garis pantai dan perairan laut.
Fenomena ini terjadi di Kelurahan Wattang Soreang, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Minimnya kesadaran masyarakat, terbatasnya sarana prasarana, dan ketiadaan sistem pengelolaan berbasis komunitas menjadi faktor utama yang memperparah persoalan sampah di kawasan tersebut.
Menyikapi persoalan itu, Dosen dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) turun tangan mengedukasi masyarakat setempat khususnya kelompok nelayan tentang penanganan sampah melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kegiatan digelar pada 4 September 2025.
Tim PKM yang terlibat diantaranya Asmidar (Dosen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Muhammad Saenong (Dosen Budidaya Perairan FPIK) dan Damis (Dosen Ilmu Perikanan Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang).

PKM ini dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan melibatkan kelompok masyarakat untuk mengelolah sampah berbasis kawasan pesisir di Kelurahan Wattang Soreang.
Asmidar mengatakan bahwa program ini terdiri dari pelatihan teknis, penyuluhan, serta pendampingan intensif bagi masyarakat. Fokus utama adalah mengembangkan keterampilan dalam mengolah sampah organik menjadi kompos dan pupuk cair, serta mengubah sampah anorganik menjadi barang bernilai jual seperti kerajinan tangan dan bahan daur ulang. Dengan demikian sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah dapat ditransformasikan menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
“Kita datang di Soreang untuk mensosialisasikan tentang sampah organik dan anorganik di wilayah pesisir. Kita tahu bahwa sampah – sampah di wilayah ini banyak sekali terutama sampah anorganik yang tidak bisa terurai, jadi kami memberikan arahan, diskusi dengan kelompok nelayan dengan memberi pengarahan agar peduli dan bagaimana mengelola sampah di wilayah pesisir,” ujarnya.
“Selain itu juga memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah – sampah ini juga bisa di daur ulang seperti keranjang yang terbuat dari bahan plastik,” sambung Asmidar.
Tim PKM juga mengedukasi masyarakat setempat bagaiman memanfaatkan sampah organik yang bisa terurai untuk dijadikan pupuk atau kompos, selain itu juga dijadikan sebagai pakan ternak.
“Mudah mudahan melalui kegiatan ini masyarakat bisa lebih peduli tentang sampah, tidak membuang sampah sembarangan dan sampah yang organik bisa dimanfaatkan,” harap Asmidar.
Penyuluh Perikanan, Anugrah Tenrisa’na Rifai, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas edukasi dan bantuan mesin pencacah yang diberikan tim PKM UMI.
“Terima kasih kepada Ibu Asmidar dan tim telah memberikan informasi dan pengetahuan mengenai sampah organik dan anorganik. Atas kegiatan ini nelayan yang awalnya tidak mengetahui tentang apa itu sampah organik dan anorganik sekarang mereka sudah tahu,” katanya.
“Terimah kasih atas bantuan yang diberikan kepada kelompok nelayan Anugrah semoga sarana dan prasarana ini dapat difungsikan dengan baik,” tambah Anugrah.
Sementara itu Ketua Kelompok Nelayan Anugrah, Colleng, berharap melalui kegiatan ini setidaknya para nelayan punya pengetahuan bagaimana mengurangi sampah dengan adanya penguraian yang disampaikan tim PKM.
“Bisa membedakan sampah organik dan anorganik serta cara pengelolaannya, artinya dimanfaatkan yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Melalui sosialisasi, pelatihan teknis, dan pendampingan yang diberikan Tim PKM, masyarakat diharapkan mampu memahami pentingnya pengelolaan sampah, terampil mengoperasikan mesin pencacah organik, serta terbiasa melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. (jar)






