Dosen UMI Ubah Wajah Tambak Tradisional di Pinrang dengan Inovasi “Baby Box”

Tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) yang diketuai Ir. Muhammad Saenong, M.P, dibantu oleh Asmidar, S.Kel., M.Si, menggandeng kelompok pembudidaya Sejahtera Bersama dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi tambak udang windu di Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang.

Radarmakassar.id – Inovasi sederhana tapi berdampak besar lahir dari tangan para dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI). Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unggulan, tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) berhasil mentransformasi tambak tradisional di Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, menjadi tambak modern berbasis teknologi ramah lingkungan.

Program yang diketuai oleh Ir. Muhammad Saenong, M.P, dan dibantu oleh Asmidar, S.Kel., M.Si, ini menggandeng kelompok pembudidaya Sejahtera Bersama sebagai mitra pelaksana. Kegiatan berlangsung selama empat bulan dan melibatkan mahasiswa bernama Nurhijrah Islamiah dan Ananda Ania Wahyudi serta alumni UMI bernama Damis, S.Kel., M.Si sebagai bagian dari pendampingan lapangan.

Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi tambak udang windu yang selama ini masih dikelola dengan cara konvensional. Melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi tepat guna, tim UMI memperkenalkan dua inovasi utama yaitu sistem Pentokolan dan alat Baby Box.

Sistem Pentokolan merupakan konsep budidaya zonasi, di mana kolam dibagi menjadi beberapa area dengan fungsi berbeda mulai dari penampungan air, sedimentasi, hingga kolam pemeliharaan utama. Sistem ini membuat pengelolaan air dan limbah menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Sedangkan Baby Box adalah alat pemeliharaan benur (anak udang) yang dirancang khusus dengan bahan sederhana seperti paralon, jaring halus, dan aerasi mikro untuk menjaga kadar oksigen serta kestabilan suhu air.

“Kami menyadari bahwa akar masalah petambak tradisional adalah tingginya tingkat kematian benur di fase awal. Dengan Baby Box, benur bisa beradaptasi lebih baik sebelum ditebar ke kolam utama,” ujar Ir. Muhammad Saenong kepada Radar Makassar.

Penerapan teknologi ini terbukti meningkatkan kelangsungan hidup benur hingga dua kali lipat dibanding metode konvensional. Para petambak juga merasakan efisiensi dalam penggunaan air, pakan, dan waktu perawatan. Selain manfaat teknis, inovasi ini juga menumbuhkan kesadaran baru di kalangan masyarakat pesisir tentang pentingnya penerapan teknologi ramah lingkungan.

Kegiatan PKM ini diawali dengan sosialisasi, pembuatan alat secara gotong royong, hingga pelatihan lapangan dengan metode sekolah tambak. Tim dosen UMI tak hanya mengajarkan teori tetapi langsung mendampingi petambak dalam membuat dan mengoperasikan alat Baby Box. Seluruh proses dilakukan secara partisipatif dengan tujuan agar masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan teknologi ini secara mandiri.

Selain fokus pada teknologi budidaya, program ini juga memberikan pelatihan manajemen tambak, pencatatan produksi, dan diversifikasi usaha. Dengan sistem baru, kelompok mitra kini mampu memproduksi benur dan udang konsumsi dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi. Bahkan, sebagian petambak mulai mencoba mengembangkan produk turunan seperti udang beku dan hasil olahan untuk memperluas pasar.

Pogram PKM ini merupakan bagian dari komitmen Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) UMI dalam memperkuat peran perguruan tinggi terhadap masyarakat.

Ketua LPkM UMI ini juga menyebut, kegiatan semacam ini adalah bentuk nyata kontribusi akademisi dalam mendukung ekonomi biru dan pemberdayaan pesisir.

“UMI terus mendorong inovasi yang aplikatif, murah, dan bisa diterapkan langsung oleh masyarakat. Pendekatannya bukan hanya riset, tetapi aksi nyata di lapangan,” katanya.

Muhammad Saenong menambahkan, keberhasilan ini tak lepas dari antusiasme masyarakat Wiringtasi yang terbuka terhadap perubahan.

“Kuncinya adalah kemauan untuk belajar dan mencoba hal baru. Kami hanya memfasilitasi agar inovasi bisa menjadi milik bersama,” ungkapnya.

Ke depan, tim UMI berencana memperluas penerapan teknologi Pentokolan-Baby Box ke wilayah pesisir lainnya di Sulawesi Selatan, seperti Pangkep dan Barru. Harapannya, inovasi ini bisa menjadi model nasional dalam transformasi tambak tradisional menuju sistem modern yang produktif dan berkelanjutan.

Program ini sekaligus membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus mahal dan rumit. Dengan kreativitas, pengetahuan, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, teknologi sederhana pun bisa mengubah wajah ekonomi pesisir.

“Baby Box mungkin kecil, tapi dampaknya besar. Ia memberi harapan baru bagi petambak kecil untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah tantangan zaman,” tutup Saenong.

Ketua kelompok Sejahtera Bersama, M. Alghiffari A Tenriajeng, S.Pi, mengaku banyak merasakan manfaat dari program ini.

“Sebelumnya kami hanya pakai cara tradisional. Banyak benur mati dan hasil panen tidak menentu. Sekarang, dengan sistem Pentokolan dan Baby Box, hasilnya jauh lebih baik dan lebih hemat,” katanya penuh semangat. (jr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *