BI Sulsel Ajak Media Perkuat Literasi Ekonomi Masyarakat

RadarMakassar.id – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan terus berkomitmen dalam menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan juga memperkuat literasi ekonomi di masyarakat Sulsel.

Dukungan media pun dinilai sangat penting strategis, khususnya dalam menyampaikan kebijakan BI kepada masyarakat secara tepat dan berimbang.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Sulawesi Selatan, Aswin Gantina, mengatakan media merupakan mitra utama BI dalam membangun pemahaman publik terkait kondisi ekonomi, inflasi, dan kebijakan moneter maupun makroprudensial yang dijalankan bank sentral.

“Memasuki 2026, kami tetap berharap support dari teman-teman media untuk bersama-sama menjaga dan mendorong ekonomi Sulsel agar semakin baik. Media memiliki fungsi strategis dalam menyampaikan kebijakan BI kepada masyarakat,” kata Aswin dalam acara silaturahmi BI dan media, di kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Rabu (14/1/2026).

Dalam acara bertema “Satu Narasi, Sejuta Literasi, Untuk Ekonomi Sulsel Yang Mandiri” itu, Aswin mengatakan, sinergi antara BI dan media perlu terus diperkuat untuk berkontribusi dalam memajukan dan meningkatkan perekonomian Sulsel.

Aswin menilai, pemberitaan yang edukatif akan membantu masyarakat memahami kondisi ekonomi secara utuh, dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang berpotensi memicu gejolak harga.

Pada kesempatan tersebut, Aswin juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, kondisi ekonomi Sulsel tumbuh secara stabil dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga dalam sasaran. Capaian tersebut, disebut sebagai hasil kerja bersama berbagai pihak, termasuk peran media.

Aswin juga mengingatkan pentingnya peran media dalam mengedukasi masyarakat, agar tidak melakukan panic buying, terutama menjelang dan saat hari besar keagamaan seperti Ramadan. Perilaku belanja berlebihan dinilai dapat memicu lonjakan permintaan yang berdampak pada kenaikan harga.

“Kami mohon bantuan media untuk mengedukasi masyarakat agar berbelanja secara bijak dan tidak panik. Jika panic buying terjadi, harga bisa bergejolak dan berpotensi mengganggu stabilitas,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *