Makassar, Radarmakassar.id — Pengelolaan sampah di sektor industri kuliner sering kali menjadi tantangan besar, namun tidak bagi Kafe Mama di Kota Makassar. Berawal dari refleksi mendalam tentang masa depan generasi penerus, kafe ini sukses mengintegrasikan sistem pemilahan sampah mandiri yang tidak hanya menekan volume residu ke TPA, tetapi juga membawa dampak ekonomi langsung bagi karyawannya.
Owner Kafe Mama, Natalia mengungkapkan bahwa motivasi utama pergerakan ini didasari atas kesadaran emosional terhadap kelestarian bumi. Disamping itu, sebagai wujud nyata dalam mendukung gerakan pemerintah tentang penangan sampah.
“Prinsip dasarnya adalah tentang apa yang mau kita wariskan untuk anak cucu kita nanti. Kita tentu menginginkan sesuatu yang lebih baik bagi keturunan kita,” ujarnya.
Aksi pemilahan sampah di Kafe Mama mulai diintensifkan secara bertahap sejak masa pandemi Covid-19. Memanfaatkan waktu luang yang banyak saat pandemi, mereka mulai belajar bercocok tanam, memilah sampah, hingga membuat eco-enzyme dan kompos.
Menariknya, aktivitas ramah lingkungan ini ternyata bukan hal baru bagi keluarga pemilik kafe. Sang ibu diketahui telah melakukan metode composting secara mandiri menggunakan tong biru di rumahnya sejak sekitar 15 tahun lalu—jauh sebelum isu pengolahan sampah ramai dikampanyekan seperti sekarang. Hasil air dari proses kompos tersebut dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan taman kelolaan mereka.
Mengubah perilaku karyawan dalam mengelola sampah diakui bukan perkara mudah. Sebagai solusi, manajemen kafe menerapkan kebijakan internal yang ketat melalui pembuatan peraturan perusahaan yang tegas tanpa toleransi guna membentuk kebiasaan baru.
Untuk mempermudah pelaksanaan di lapangan, pihak kafe menempelkan infografis edukatif di setiap titik penempatan tempat sampah. Pemilahan dilakukan secara spesifik ke dalam beberapa kategori wadah plastik bersih vs plastik kotor.
Plastik yang bersih dipisahkan dari plastik yang terkontaminasi sisa makanan. Wadah cokelat: Khusus menampung ampas kopi dan daun-daun kering. Wadah khusus: digunakan untuk memisahkan kulit telur dan wadah karton telur secara terpisah.
Salah satu strategi paling efektif yang membuat karyawan antusias dalam memilah sampah adalah adanya nilai ekonomi sirkular. Pihak manajemen menetapkan kebijakan bahwa seluruh uang hasil penjualan sampah daur ulang diserahkan sepenuhnya kepada karyawan, bukan untuk pemasukan perusahaan.
Sampah-sampah bernilai ekonomis seperti botol air mineral, plastik bersih, karton, hingga minyak jelantah dijual kepada pengepul yang datang langsung ke kafe. Insentif finansial ini dirasakan langsung oleh karyawan untuk memenuhi kebutuhan harian mereka, seperti membeli kopi bersama.
Keberhasilan Kafe Mama Natalia tidak lepas dari dukungan penuh pemangku kebijakan setempat. Pemilik kafe memuji keaktifan camat setempat yang dinilai luar biasa dalam memfasilitasi pengolahan sampah organik.
Seluruh sampah organik dari kafe rutin diangkut dan diantarkan sendiri oleh pihak kafe sebanyak tiga kali seminggu menggunakan mobi pick-up menuju lokasi TPS 3R di Satando. Pengantaran dilakukan setiap dua hari sekali agar kondisi sampah organik belum rusak dan siap dikonsumsi oleh budidaya maggot di TPS tersebut.
Apresiasi atas komitmen ini pun berbuah manis. Melalui sinergi dengan pak camat, Kafe Mama Natalia baru-baru ini mendapatkan bantuan berupa satu unit alat pencacah daun. Alat ini berfungsi menghancurkan sampah dedaunan agar volumenya menjadi lebih kecil, padat, dan mudah diolah menjadi kompos atau media pembuatan Teba (lubang sampah organik). (jr)






