MAROS – Pemerintah Kabupaten Maros bergerak mengawal kasus meninggalnya Valenth Alexie Tamboto (24), pekerja migran asal Kecamatan Moncongloe yang meninggal di Armenia.
Valenth yang baru sekitar tiga bulan bekerja di negara tersebut diduga menjadi korban pembunuhan. Namun, hingga kini aparat setempat masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian dan pihak yang bertanggung jawab.
Valenth merupakan warga Dusun Rimau, Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, Maros. Kabar kematiannya mengejutkan keluarga karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda mencurigakan.
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan Pemkab Maros telah mendampingi keluarga dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengawal penanganan kasus tersebut.
Chaidir mengaku pertama kali mengetahui kabar tersebut melalui media sosial dan sejumlah laporan. Ia kemudian menginstruksikan Dinas Tenaga Kerja Maros untuk menemui keluarga korban.
“Kami baru mendapat informasi kemarin dari media sosial dan beberapa laporan. Kami sudah mengunjungi keluarga untuk memberikan semangat dan insyaallah mencari jalan keluarnya,” kata Chaidir, Selasa (21/7/2026).
Pemkab Maros juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Kementerian disebut telah menindaklanjuti laporan tersebut dan berkomunikasi dengan KBRI Kyiv, Ukraina, yang menangani urusan diplomatik Indonesia untuk Armenia.
“Update sampai sekarang sudah dilakukan tindak lanjut dari kementerian dan sudah melakukan komunikasi dengan KBRI Kyiv. Mudah-mudahan informasi dari KBRI bisa segera turun karena masih dalam tahap investigasi. Kementerian juga menyampaikan akan melaporkan perkembangan kepada kami,” ujarnya.
Chaidir memastikan Pemkab Maros akan terus mengawal proses tersebut, terutama untuk mendapatkan kepastian mengenai penyebab kematian sekaligus mengupayakan pemulangan jenazah Valenth ke Indonesia.
“Kami akan terus berusaha supaya doa keluarga adinda Valenth ini, agar jenazahnya bisa dipulangkan ke Indonesia, bisa kita wujudkan. Kita doakan bersama,” tuturnya.
Untuk memperkuat koordinasi di tingkat pusat, Chaidir juga meminta bantuan Anggota DPR RI asal Sulawesi Selatan Ashabul Kahfi agar turut mengawal penanganan kasus tersebut.
Kepala Desa Moncongloe Lappara Sirajuddin mengatakan keluarga Valenth telah tinggal di wilayah tersebut sekitar empat hingga lima tahun. Valenth merupakan anak sulung dari tiga bersaudara.
Menurut Sirajuddin, Valenth baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia. Sebelumnya, korban sempat bekerja di Filipina selama beberapa tahun.
Terkait informasi dugaan pembunuhan, pihak desa masih menunggu keterangan resmi dari aparat berwenang.
“Kalau informasi yang beredar memang diduga pembunuhan. Tapi kami masih menunggu informasi resmi,” kata Sirajuddin.
Kabar duka tersebut juga meninggalkan cerita dari komunikasi terakhir Valenth dengan keluarganya. Adiknya, Arnold Tamboto, mengaku masih sempat berbincang dengan sang kakak melalui Telegram pada dini hari sebelum kehilangan kontak.
Arnold mengatakan percakapan mereka berlangsung normal. Setelah itu, pesan yang dikirimnya tidak lagi mendapat balasan.
“Setelah tanya kabar tengah malam sudah putus kontak. Besok paginya saya chat lagi, tapi Telegram-nya masih centang satu. Siang saya chat lagi masih centang satu. Sore saya chat lagi masih centang satu. Terakhir saya chat sekitar jam tujuh malam juga masih centang satu,” ungkap Arnold.
Arnold awalnya mengira kakaknya sedang beristirahat karena hari tersebut merupakan hari libur kerja. Namun sekitar pukul 23.30 Wita, ia mendapat telepon dari pamannya yang menyampaikan kabar kematian Valenth.
“‘Noe, kamu sudah siap dengar ini? Kakakmu meninggal.’ Saya langsung syok. Saya hanya diam setelah mendengar itu,” kenangnya.
Setelah itu, Arnold kembali menerima telepon yang disambungkan dengan kekasih Valenth untuk memastikan kabar tersebut.
Arnold juga mengaku mendapat informasi mengenai seorang pria yang diduga terkait dengan kematian kakaknya. Pria tersebut disebut warga Makassar, teman sekamar Valenth, sekaligus pihak yang merekrut korban untuk bekerja di Armenia.
“Dia yang dicurigai sebagai otak pembunuhan ini. Dia yang meng-hire kakak saya, tapi dia juga sudah ditangkap,” ujarnya.
Namun, keterangan mengenai dugaan pelaku dan motif tersebut masih berasal dari informasi yang diterima keluarga. Hingga kini, aparat penegak hukum di Armenia masih melakukan penyelidikan dan belum mengumumkan hasil resmi terkait penyebab kematian Valenth maupun pihak yang bertanggung jawab.






