Kemensos Kolaborasi BNI Perkuat Literasi Keuangan Siswa Sekolah Rakyat

Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (tengah), Direktur Kelembagaan BNI Eko Setyo (kedua dari kanan), Sekda Sulsel Jufri Rachman (pojok kanan), Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi (kedua dari kiri), Kepsek Sekolah Rakyat 3 Sulsel, Widyawati (pojok kiri).

Makassar, Radarmakassar.id — Kementerian Sosial (Kemensos) berkolaborasi dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) untuk memperkuat literasi keuangan dan membangun kebiasaan menabung sejak dini bagi siswa Sekolah Rakyat.

Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf mengatakan, dukungan BNI merupakan bagian dari upaya Kemensos membangun kolaborasi dengan dunia usaha, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, hingga BUMN dalam menjalankan program strategis Sekolah Rakyat.

“Saya secara khusus berterima kasih kepada BNI yang sejak awal mendampingi penyelenggaraan Sekolah Rakyat. BNI memberikan pendampingan kepada siswa dengan memperkuat literasi keuangan dan juga kepedulian terhadap lingkungan,” kata Saifullah saat menghadiri kegiatan bertema Mimpi yang Diberi Ruang “Swadharma Bhakti Nagara BNI Sahabat Sekolah Rakyat”, yang digelar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Pajjaiang, Sudiang Raya, Makassar, Jumat (25/9/2026).

Menurut Gus Ipul begitu sapaan akrabnya, literasi keuangan menjadi bagian penting dalam membekali siswa Sekolah Rakyat agar mampu mengelola keuangan dan merencanakan masa depan. Selain edukasi keuangan, BNI juga mendukung digitalisasi sistem absensi siswa. Sistem tersebut memungkinkan siswa melakukan absensi menggunakan kartu saat masuk asrama, kelas, tempat ibadah maupun saat makan.

“Setiap siswa yang mau masuk asrama, masuk kelas, beribadah, maupun makan cukup menggunakan kartu, kemudian sudah terhubung dengan guru, kepala sekolah, dan orang tua,” ujarnya.

Gus Ipul mengatakan, sistem tersebut nantinya akan diterapkan di seluruh gedung permanen Sekolah Rakyat. Teknologi itu diharapkan membantu pengawasan aktivitas siswa sekaligus mendukung pengelolaan sekolah yang lebih terukur.

BNI juga memberikan bantuan tabungan kepada sekitar 16 ribu siswa Sekolah Rakyat tahun 2025. Setiap siswa mendapatkan bantuan sebesar Rp80 ribu sebagai bagian dari edukasi literasi keuangan.

“Ini tentu kita berterima kasih dan mudah-mudahan menjadi bagian dari edukasi khususnya literasi keuangan,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Kelembagaan BNI Eko Setyo Nugroho mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen BNI menjadi BNI Sahabat Sekolah Rakyat, bertepatan dengan momentum ulang tahun ke-80 BNI.

“Pada ulang tahun ini kami berkolaborasi dengan Sekolah Rakyat, di mana BNI menjadi BNI Sahabat Sekolah Rakyat,” kata Eko.

Ia menjelaskan, terdapat empat pilar utama dalam kolaborasi BNI dengan Sekolah Rakyat.

Pertama, Cerdas Belajar, melalui pemberian literasi keuangan agar siswa memahami cara mengatur keuangan dan mempersiapkan masa depan. Kedua, Cerdas Menabung, yakni membangun kebiasaan menabung sejak dini sehingga siswa dapat merencanakan keuangan untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita.

Ketiga, Cerdas Sekolah, berupa dukungan terhadap digitalisasi pengelolaan sekolah, termasuk sistem absensi yang dapat digunakan siswa, guru, dan orang tua. Keempat, peduli lingkungan, melalui dukungan pengelolaan persampahan di lingkungan Sekolah Rakyat.

“Kami mensupport persampahan sehingga nanti sampah-sampah yang ada di sekolah itu dapat digunakan dengan baik dan anak didik Sekolah Rakyat dapat mempunyai kebiasaan untuk selalu menjaga lingkungan,” jelasnya.

Terkait keberlanjutan pembangunan Sekolah Rakyat, Mensos Gus Ipul menambahkan, pembangunan sejak awal dirancang melalui kolaborasi berbagai pihak. Kemensos bertanggung jawab dalam operasional, Kementerian Pekerjaan Umum menangani pembangunan gedung, sementara pemerintah daerah menyediakan lahan. Saat ini, Sekolah Rakyat telah memiliki gedung permanen di 90 kabupaten/kota. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 150 gedung permanen tahun depan.

Setiap gedung permanen dirancang untuk menampung sekitar 1.500 hingga 2.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA, dengan fasilitas asrama siswa dan guru, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, tempat ibadah, fasilitas olahraga, serta fasilitas pendukung lainnya.

Ia menegaskan, penerimaan siswa Sekolah Rakyat dilakukan melalui penjangkauan berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), bukan melalui pendaftaran umum.

Calon siswa dijangkau dan menjalani asesmen. Setelah dinilai memenuhi syarat dan mendapat persetujuan orang tua, proses dilanjutkan melalui pleno di tingkat kabupaten/kota atau provinsi sebelum ditetapkan sebagai siswa Sekolah Rakyat.

“Jadi ada tahapan untuk menjadi siswa Sekolah Rakyat. Dari awal memang dirancang untuk kolaborasi,” pungkas Gus Ipul. (Jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *