RADARMAKASSAR.ID — Anggota MPR RI Dr. Hj. Meity Rahmatia menyoroti peluang sekaligus tantangan generasi muda dalam kehidupan bernegara di tengah dominasi platform digital. Hal itu ia sampaikan pada hari kedua Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kota Makassar, Selasa (18/11/2025).
Dalam paparannya, Meity menegaskan bahwa Gen Z merupakan kelompok yang akan menjadi pelopor pembangunan bangsa di masa mendatang. Karakter mereka yang dekat dengan teknologi digital, menurutnya, membawa dampak besar bagi dinamika sosial, budaya, ekonomi, maupun politik.
“Gen Z yang pandai menggunakan berbagai platform digital bisa memanfaatkan ruang sosial di dunia daring untuk belajar lebih banyak, menambah wawasan, berinteraksi dengan berbagai budaya, dan tentu saja bekerja,” ujarnya.
Anggota Fraksi PKS itu menambahkan, media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok telah menjadi ruang bagi anak muda untuk mengembangkan profesionalitas, termasuk menjadi konten kreator yang berpenghasilan. “Secara ekonomi, banyak anak muda kini hidup sebagai konten kreator,” imbuhnya.
Meity juga menilai bahwa perkembangan teknologi membuat Gen Z lebih inovatif, adaptif, dan terbuka dalam melihat perubahan. Namun, ia mengingatkan bahwa ruang digital tidak sepenuhnya bebas dari ancaman.
Menurutnya, konten dan platform digital tertentu kerap dimanfaatkan untuk tindakan kriminal maupun perilaku menyimpang yang mengganggu stabilitas kehidupan bernegara. “Sudah bukan rahasia umum bagaimana situs-situs judi online dan tindak penipuan berkembang pesat di media digital. Sebagian bahkan mengarah pada penyebaran paham radikal yang dapat mereduksi rasa nasionalisme,” tegasnya.
Meity menyebutkan, dari total populasi 286,7 juta warga Indonesia, sebanyak 229,4 juta merupakan pengguna internet, dengan persentase terbesar berasal dari kalangan Gen Z. Karena itu, ia menilai bahwa teknologi digital telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan generasi ini.
Ia mencontohkan dinamika sosial politik di sejumlah negara, termasuk Nepal, sebagai dampak dari interaksi Gen Z dengan platform digital dan kebijakan negara terkait pembatasan teknologi. “Peristiwa tersebut harus menjadi cermin bagi kita semua, terutama penyelenggara negara agar lebih bijak menyikapi keterikatan Gen Z dengan teknologi,” ujarnya.
Meity mendorong pemerintah dan masyarakat untuk membangun pendekatan persuasif melalui literasi digital sejak lingkungan keluarga. Ia menilai pelibatan Gen Z secara langsung penting dilakukan agar mereka mampu mengidentifikasi dan mengendalikan potensi penyimpangan di ruang digital.
“Yang paling penting, lembaga negara, politisi, serta pejabat pemerintah harus memberi contoh positif. Dalam menanamkan Empat Pilar, kita bukan sekadar mengajak, tetapi juga menunjukkan teladan, seperti tidak korupsi, berjiwa sosial, bersikap adil, ramah, dan terbuka,” pungkasnya.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar tersebut berlangsung di Hotel Swiss-Belhotel, Kota Makassar.(kas/**)






