RadarMakassar – Layanan BRImo dari Bank Rakyat Indonesia kian digandrumi pelaku usaha dari kalangan generazi zero (Gen Z) dalam melakukan berbagai macam transaksi. Fitur layanan yang lengkap dan mudah menjadi alasan aplikasi keuangan digital ini jadi pilihan tersendiri.
Aplikasi BRImo menghadirkan berbagai layanan transaksi keuangan seperti transfer, pembayaran tagihan dan e-wallet, tarik tunai tanpa kartu serta pembayaran listrik. Selain itu, aplikasi ini juga menyediakan fitur investasi, pembukaan rekening digital, pengajuan pinjaman, dan fitur pembayaran QRIS.
Layanan ini menurut mahasiswi Institut Teknologi Bisnis (ITB) Nobel Indonesia yang juga pemilik usaha Choco Jinola, Salsabila, sangat mempermudah wirausaha pemula seperti dirinya dalam mendukung usahanya, terutama untuk transaksi pembayaran produk.
Choco Jinola adalah sebuah produk cemilan bervarian cokelat yang diinovasikan oleh tiga mahasiswi ITB Nobel Indonesia dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang didanai langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI.
“Untuk transaksi pembayaran produk saya hanya punya BRI, aplikasi BRImo mudah dan cepat,” ujar Caca sapaan akrab Salsabila saat ditemui di Hotel Claro Makassar dalam acara Wisuda pada Rabu (26/11/2025).
Caca mengungkapkan memilih layanan BRImo dalam transaksi pembayaran bukan hanya karena mudah dan cepat, tetapi kalangan Gen Z juga saat ini mayoritas sudah tidak menggunakan uang cas dan pengguna aplikasi BRImo juga banyak dari kalangan ini.
“Sekarang juga gen Z jarang sih pegang cash, jadi biasa dia transfer saja, kita pakai aplikasinya BRImo, gampang,” katanya.
Usaha Choco Jinola hadir di masyarakat mulai Agustus 2025 lalu. Meski tergolong baru, Caca mengungkapkan bahwa produknya banyak diminati masyarakat karena bahannya menggunakan cokelat lokal yang diambil langsung dari petani lokal di Polewali Mandar (Polman). Hingga November ini, Ia telah membukukan laba bersih sebanyak Rp9.000.000,.
“Choco Jinola kita pakai standing pouch, harganya Rp25.000 per kemasan (10 biji). Banyak yang suka karena kita gunakan bahan lokal dan kita inovasikan didalamnya ada granola, cokelat, ada kuaci, ada kismis, ada juga kacang almondnya, terus kami juga campurkan jintan,” tuturnya.
Saat ini Caca bersama dua rekannya yaitu Nur Afifah Reski dan Muh. Aidil Saputra masih memasarkan produknya di lingkup Kota Makassar. Namun, ia berencana untuk mengembangkan agar lebih dikenal dan bisa menjangkau pasar luas. Salah satu harapannya bisa mendapat pendanaan dari perbangkan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Untuk saant ini masih di tawarkan langsung ke dosen, teman dan ada juga di online. Untuk pengembangan kalau ada KUR untuk UMKM mau sih kalau ada link ke sana. Rencana ke depannya juga mau buat Shopeenya. Karena kemarin juga pas Expo itu banyak sekali yang cari baru habis,” ujar Caca menambahkan.
“Harapanku untuk bisnisku ke depannya itu bisa lebih berkembang lagi, dikenal lagi sama banyak orang, pasarnya semakin luas seluruh Indonesia, kalau bisa keluar Indonesia juga gitu,” harap perempuan kelahiran 2004 ini.
Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Lukman mengapresiasi mahasiswa dari perguruan tinggi menjadi wirausaha. Menurutnya, inovasi yang dilahirkan generasi gen Z perlu di dukung oleh semua pihak termasuk perbankan dalam mendorong lahirnya enterpreneurship. Hal ini kata dia juga sejalan dengan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka.
“Kami memang akan terus mendorong seperti itu, wirausaha seperti itulah yang dibutuhkan oleh dunia industri. Kalau ada dari perbankan tentu itu kami mendorong untuk lebih meningkatkan keterampilan dan skill calon-calon enterpreneur di tingkat universitas,” katanya.
Ia menyebut LLDIKTI IX belum bekerja sama secara spesifik bersama perbankan dalam program pembinaan mahasiswa wirausaha. Namun menurutnya jika ada wirausaha muda dari perguruan tinggi yang dieprcaya mengakses bantuan perbankan maka akan lebih baik.
“Kalau ada memang dipercaya oleh bank silakan saja, itu untuk mengakses kemudahan-kemudahan keuangannya, mengembangkan bisnisnya. Harapannya dalam mendorong mahasiswa atau alumni-alumni di tingkat perguruan tinggi,”tambahnya.
Ketua Asosiasi UMKM Provinsi Sulawesi Selatan, Bahtiar Baso juga mendorong pelaku usaha agar terus berkembang salah satunya melalui bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan. Ia menyebut KUR di Sulawesi Selatan secara umum setiap tahun penyalurannya cukup baik.
“Kami di asosiasi terus mensupport perbankan untuk bisa menyalurkan KUR sehingga apa yang menjadi program prioritas ataupun cita-cita Bapak Presiden Prabowo di pemerintahan Merah Putih ini terwujud,” ujarnya.
Ia juga mendorong semua skema-skema pembiayaan, skema subsidi yang diberikan oleh pemerintah betul-betul bisa menyasar sektor masyarakat, khususnya para pelaku usaha dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
“Tiak pada satu sektor dua sektor saja, tetapi secara kolektif ekonomi itu bisa tumbuh di wilayah masing-masing. KUR itu masih menjadi salah satu platform yang penting untuk bisa mensupport, merangsang pelaku usaha kita,” jelasnya. (jar)






