Makassar, Radarmakasar.id – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar kegiatan Talk Show bertajuk “Breaking Tuberculosis Stigma Through Storytelling” di Aula FKM UMI, Kamis (23/4). Kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan penguatan kesadaran publik tentang pentingnya menghapus stigma terhadap penyintas maupun penderita tuberkulosis melalui pendekatan komunikasi yang lebih empatik dan humanis.
Kegiatan tersebut menghadirkan Amber Johnson, Communication Specialist dari Lewis and Clark Public Health, Montana, USA, sebagai pembicara utama. Sementara itu, acara dipandu oleh Dr. Nurfardiansyah Burhanuddin, S.K.M., M.Kes., dosen FKM UMI, yang bertindak sebagai host dalam forum ilmiah tersebut.
Talk show ini menjadi bagian dari komitmen FKM UMI dalam memperkuat peran akademik kampus dalam isu-isu kesehatan masyarakat yang aktual dan berdampak luas. Melalui tema yang diangkat, peserta diajak memahami bahwa tuberkulosis bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial yang kerap melahirkan stigma, diskriminasi, serta hambatan dalam proses pencegahan dan pengobatan.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menilai bahwa kegiatan ini sangat penting karena menyentuh dimensi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Menurutnya, kampus tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam membangun kesadaran sosial yang lebih inklusif, terutama terhadap kelompok yang rentan mengalami stigma.
“Isu tuberkulosis tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan kesehatan, tetapi juga harus dilihat dari sisi kemanusiaan dan komunikasi sosial. Melalui forum seperti ini, UMI ingin menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan masyarakat,” tutur Rektor UMI.
Sementara itu, Dekan FKM UMI, Prof. Dr. Suharni, S.Pd., M.Kes., menegaskan bahwa tema Breaking Tuberculosis Stigma Through Storytelling sangat relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat saat ini. Ia menilai, pendekatan komunikasi berbasis cerita atau storytelling dapat menjadi strategi efektif untuk membangun empati, memperluas pemahaman, dan mengurangi stigma terhadap penderita tuberkulosis.
“Kami berharap kegiatan ini membuka wawasan sivitas akademika dan masyarakat bahwa penanganan tuberkulosis tidak hanya membutuhkan intervensi medis, tetapi juga pendekatan komunikasi yang tepat, empatik, dan berbasis pengalaman manusia. Storytelling menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pesan kesehatan yang lebih dekat dan menyentuh,” demikian draf komentar Dekan FKM UMI.
Kehadiran narasumber internasional dari Amerika Serikat juga menjadi nilai tambah dalam forum ini, karena memberikan perspektif global terkait komunikasi kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani stigma terhadap tuberkulosis. Hal ini sekaligus memperkuat langkah FKM UMI dalam memperluas jejaring akademik internasional dan menghadirkan diskusi-diskusi yang relevan dengan isu kesehatan global.
Melalui penyelenggaraan talk show ini, FKM UMI diharapkan terus mengambil peran aktif dalam edukasi kesehatan masyarakat, penguatan literasi publik, serta pengembangan forum akademik yang mampu menjawab tantangan kesehatan kontemporer. Kegiatan ini juga menegaskan komitmen UMI untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi ilmiah yang berdampak, baik pada level lokal, nasional, maupun internasional. (*)






