MAKASSAR, Radarmakassar.id – Suara lantunan talbiyah bergema memecah keheningan pagi di lingkungan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Darul Fikri Makassar, Kamis (30/4/2026). “Labbaikallahu malabbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…” Kalimat sakral itu meluncur khidmat dari bibir-bibir mungil yang hari itu kompak mengenakan pakaian ihram serba putih.
Bukan di tanah suci Makkah, namun suasana yang terbangun begitu kental dengan nuansa ibadah haji lengkap dengan miniatur ka’bah. Lebih dari 1.000 siswa, mulai dari jenjang terkecil RKK B, TK,hingga SMP , tumpah ruah mengikuti simulasi manasik haji.
SIT Darul Fikri menghadirkan miniatur “Makkah” ke halaman sekolah. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan namun sebagai manivestasi di tengah musim haji yang sesungguhnya.
”Kami berinisiatif membuat sendiri semua ‘perintilan’ haji yang digunakan. Semuanya bisa dibongkar pasang sehingga tahun depan bisa digunakan kembali,” ujar A. Sriwahyuni, Kepala Sekolah SD SIT Darul Fikri.
Pemandangan unik terlihat saat para siswa SMA mengenakan seragam bak Askar (petugas keamanan Arab Saudi). Mereka sigap menjaga dan mengarahkan adik-adik kelas mereka dari jenjang TK hingga SMP yang berperan sebagai jemaah. Strategi ini tak hanya melancarkan alur, tapi juga melatih tanggung jawab sebagai siswa.
Perjalanan spiritual buatan ini dimulai dengan sangat detail. Para siswa memulai niat di Miqat yang bertempat di kelas masing-masing. Langkah kaki mereka kemudian berlanjut menuju Arafah yang disimulasikan di area SMP, lalu berlanjut ke Muzdalifah, Mina untuk melempar jumrah, hingga kembali ke pusat sekolah untuk Tawaf mengelilingi replika Ka’bah, Sai, dan diakhiri dengan Tahalul.
Zabir S, Ketua Panitia kegiatan, menjelaskan bahwa simulasi ini adalah bentuk syiar Islam sekaligus edukasi tentang pelaksanaan haji.
“Kami ingin anak-anak sejak dini sudah memiliki pengalaman secara fisik bagaimana pelaksanaan haji itu sebenarnya. Ada kerinduan yang ditanamkan agar kelak saat dewasa, mereka siap secara mental dan spiritual saat panggilan Allah itu datang,” ungkapnya.
Ketua Yayasan SIT Darul Fikri, Rasyidin Adnan, menekankan bahwa manasik ini adalah bagian dari agenda tahunan khas sekolah. Baginya, ini merupakan bagian dari pengenalan dan edukasi penting bagi siswa untuk megetahui lebih jauh proses-proses pelaksanaan rukun islam ke lima.
”Dengan simulasi, mereka mempraktikkan langsung. Memakai ihram, merasakan panasnya Wukuf, hingga lelahnya Sai’ Ini membangun karakter ketaatan,” jelas Rasyidin.
Tak hanya soal fisik, edukasi mengenai perjuangan menuju Baitullah juga disisipkan dalam kelas-kelas melalui materi Bina Pribadi Islam (BPI) setiap hari Rabu. Di sana, para guru mulai menyelipkan pesan tentang pentingnya menabung untuk haji, mengingat masa antrean yang kini bisa mencapai puluhan tahun.
SIT Darul Fikri bahkan membuka pintu bagi sekolah lain yang ingin bekerja sama menggunakan fasilitas manasik mandiri yang mereka miliki di masa depan. Harapannya sederhana namun mendalam: agar setiap anak yang pulang dari sekolah hari itu, membawa satu bibit doa di dalam hati mereka—doa untuk benar-benar bisa menginjakkan kaki di tanah haram suatu hari nanti. (jr)






