Kolaborasi Riset Diperkuat, Politani Pangkep Raih Pendanaan Bestari Saintek

RADARMAKASSAR.ID – Direktorat Diseminasi Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) melalui Yudi Darma menghadiri kegiatan Koordinasi dan Penguatan Penerima Program Bestari Saintek Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Tahun 2026.

Kegiatan tersebut digelar di Hotel Almadera Makassar pada Jumat (10/4) dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta sektor swasta.

Turut hadir di antaranya perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, pimpinan organisasi perangkat daerah, pimpinan perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, Universitas Muslim Indonesia, serta sejumlah mitra industri dan organisasi masyarakat.

Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, Mauli Kasmi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa institusinya berhasil meraih dua pendanaan Program Bestari Saintek melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M).

Selain itu, Politeknik Pertanian Negeri Pangkep juga memperoleh berbagai pendanaan riset lainnya, meliputi riset unggulan, dua program hilirisasi prototipe, tiga penelitian fundamental lanjutan, serta tujuh penelitian baru.

“Secara keseluruhan terdapat 15 judul penelitian yang berhasil memperoleh pendanaan. Ini menunjukkan adanya peningkatan, meskipun tidak signifikan. Kami tetap bersyukur, khususnya atas capaian dua judul Bestari Saintek tahun ini,” ujar Mauli.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. Program Bestari Saintek dinilai tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Dalam kesempatan itu, Mauli juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Direktorat Diseminasi Sains dan Teknologi Kemendikti Saintek yang memberikan arahan strategis bagi penguatan program di wilayah Sulawesi.

Sementara itu, Yudi Darma menjelaskan bahwa Program Bestari Saintek merupakan program berbasis pemecahan masalah (problem-driven).

Menurutnya, program ini tidak hanya berangkat dari minat peneliti, tetapi berfokus pada identifikasi persoalan nyata di masyarakat serta penyusunan solusi yang aplikatif.

“Program ini menuntut kemampuan mengidentifikasi masalah riil di lapangan, kemudian merumuskan solusi lengkap dengan metodologi, kebutuhan, dan timeline yang jelas,” katanya.

Ia menambahkan, Bestari Saintek mengadaptasi konsep living laboratory berbasis sains dan teknologi atau Living Lab Ecosystem yang telah berkembang di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, Australia, dan Belanda.

Melalui pendekatan tersebut, aktivitas riset tidak hanya dilakukan di laboratorium, tetapi diterapkan langsung di masyarakat dengan berbasis data dan parameter terukur.

Sebagai contoh, Yudi mengungkapkan pihaknya telah menginisiasi forum kolaborasi untuk membahas pengelolaan sampah sebagai salah satu isu nasional yang kompleks.

“Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda dalam pengelolaan sampah. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, sektor swasta, hingga komunitas untuk menghasilkan solusi yang tepat,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa peran kementerian difokuskan pada penguatan kolaborasi melalui perguruan tinggi sebagai penghubung antar pemangku kepentingan.

Di akhir kegiatan, Yudi menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para penerima program atas capaian yang diraih.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *