Daerah  

Kolaborasi Riset dan Bantuan Dana BRIN Siap Dongkrak Budidaya Lobster BUMDes Pacellekang

Tim periset dari Organisasi Riset Perikanan dan Pangan Badan Riset dan Inovasi (ORPP-BRIN) melakukan kunjungan lapangan langsung ke lokasi penangkaran lobster di Desa Pacellekang pada Rabu (10/6/2026).

Gowa, Radarmakassar.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bumi Pacellekang Sejahtera di Desa Pacellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa.

Melalui program riset terapan dan dukungan pendanaan khusus, BRIN siap merevitalisasi budidaya lobster air tawar di wilayah tersebut guna mendorong produktivitas menuju skala industri.

Dukungan penuh ini terungkap saat tim periset dari Pusat Riset Budidaya Air Tawar, Organisasi Riset Perikanan dan Pangan (ORPP-BRIN) melakukan kunjungan lapangan langsung ke lokasi penangkaran lobster di Desa Pacellekang pada Rabu (10/6/2026).

Delegasi tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar ORPP-BRIN, Dr. rer. nat. Fahrurrozi, M.Si., didampingi para pakar perikanan terkemuka, antara lain Prof. Dr. Ir. Andi Parenrengi, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Andi Akhmad Mustafa, Prof. Dr. Ir. Brata Pantjara, Dr. Ince Ayu Khairana Kadriah, S.Pi., M.Agr., dan Iman Sudrajat, S.Pi., M.Si.

Dalam tinjauannya, Dr. Fahrurrozi mengapresiasi inovasi berbasis teknologi yang telah dirintis oleh BUMDes Bumi Pacellekang Sejahtera. Menurutnya, lobster air tawar merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang sangat potensial untuk dikembangkan.

“Ini kunjungan pertama saya ke BUMDes yang menerapkan inovasi teknologi khusus di bidang budidaya air tawar. Desa Pacellekang ini bisa menjadi salah satu percontohan, tidak hanya di tingkat regional tetapi juga nasional. Kami berharap inovasi ini bisa berkembang jauh lebih besar dan menular ke daerah lain di Indonesia,” ujar Dr. Fahrurrozi.

Menanggapi kendala operasional yang dihadapi pembudidaya setempat, Dr. Fahrurrozi menegaskan bahwa BRIN siap mengintervensi melalui dua fokus kolaborasi riset utama: peremajaan induk super yang tersertifikasi dan pengembangan formulasi pakan inovatif guna menggenjot pertumbuhan lobster.

Lebih konkret, BRIN memastikan dukungan tersebut akan disalurkan melalui program riset yang telah memiliki alokasi anggaran khusus.

“Di pusat riset kami saat ini ada program khusus untuk budidaya lobster air tawar yang kegiatannya memang sudah didanai. Harapan kami program ini nanti bisa dikerjakan di sini, terutama untuk mendatangkan atau meningkatkan mutu induk baru, sehingga produktivitas penghasil benih di BUMDes ini bisa jadi lebih meningkat,” tambahnya.

Langkah intervensi dari BRIN ini menjadi angin segar sekaligus solusi konkret atas kendala utama yang selama ini dihadapi oleh pengelola lokal.

Direktur BUMDes Bumi Pacellekang Sejahtera, Shawaluddin Dg. Bate mengungkapkan bahwa ketiadaan peremajaan induk super dan keterbatasan pakan berkualitas menjadi batu sandungan utama untuk melakukan ekspansi pasar, termasuk target ekspor.

“Harapan kami kedatangan tim BRIN ini bisa berbuah manis untuk mengatasi kendala peremajaan induk super yang belum sempat kami lakukan. Kami membutuhkan pendampingan secara tuntas, pengadaan pakan yang cocok dari fase burayak hingga induk super, serta penemuan baru terkait enzim pertumbuhan lobster,” papar Direktur BUMDes.

Senada, Ketua Unit Usaha Lobster BUMDes Bumi Pacellekang, Alauddin, membeberkan rencana besar mereka pasca-adanya kepastian kolaborasi riset dengan BRIN ini.

Ia menceritakan bahwa unit usaha yang dirintis dengan 150 ekor induk pada akhir tahun 2021 itu kini telah berkembang memiliki sekitar 750 ekor induk.

Ia berharap dengan adanya dukungan dan bantuan dari BRIN, BUMDes Pacellekang siap melakukan lompatan besar menuju skala industri.

“Saat ini jumlah induk ada sekitar 750 ekor. Ke depan, kami berencana melakukan revitalisasi total dengan mengganti seluruh induk yang ada menggunakan induk super, serta menargetkan pengembangan hingga 5.000 ekor induk untuk menuju skala industri. Lahan penangkaran kami yang luas masih sangat mumpuni untuk pengembangan wadah baru,” tegas Alauddin optimis.

Di sisi lain, pendamping budidaya, Prof. Yusril, menekankan pentingnya tindak lanjut riset bersama BRIN ini secara berkelanjutan. Selain fokus pada pencarian formulasi pakan yang jauh lebih bagus dan pengembangan spesies baru seperti jenis MAB (biru) dan marron (cokelat), pihaknya juga tengah mematangkan pembentukan kelembagaan pembudidaya.

“Kami berencana membentuk Asosiasi Lobster Air Tawar untuk mewadahi sistem kemitraan dengan masyarakat, mengingat tingginya permintaan konsumen yang selama ini belum bisa terpenuhi secara mandiri. Kami memproyeksikan tempat ini akan bertindak sebagai Dewan Pengurus Daerah (DPD) asosiasi karena dari sinilah wadah ini dirintis,” pungkas Prof. Yusril. (jr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *