MAKASSAR, RADAR MAKASSAR.ID – Setelah 10 tahun vakum, Audisi Umum PB Djarum kembali digelar di Makassar sebagai salah satu lokasi penjaringan bibit pebulu tangkis berbakat dari Indonesia Timur. Setelah sebelumnya berlangsung di Pekanbaru, Makassar dipilih karena dinilai memiliki sejarah panjang dan potensi besar dalam melahirkan atlet bulu tangkis berprestasi.
Ketua Tim Audisi PB Djarum, Sigit Budiarto, mengatakan pemilihan Makassar merupakan bagian dari komitmen PB Djarum untuk menjaga regenerasi atlet bulu tangkis nasional sekaligus memperluas jangkauan pembinaan di Indonesia Timur.
“Makassar punya potensi yang bagus. Kita juga punya sejarah yang baik untuk bulu tangkis. Karena itu kami mengadakan audisi di sini dengan harapan regenerasi bulu tangkis Indonesia terus berlangsung melalui PB Djarum,” kata Sigit.
Antusiasme peserta dinilai cukup tinggi. Sebanyak 233 peserta mengikuti audisi di Makassar, terdiri atas 157 peserta putra dan 76 peserta putri. Tidak hanya berasal dari Sulawesi Selatan, peserta juga datang dari berbagai daerah, termasuk 13 peserta asal Papua.
Sigit mengapresiasi semangat para peserta yang rela datang dari daerah yang jauh demi mengikuti seleksi. Menurutnya, hal itu menunjukkan perkembangan bulu tangkis yang semakin merata di berbagai daerah.
“Kami sangat mengapresiasi perjuangan mereka. Harapannya ada bibit-bibit terbaik yang nantinya bisa bergabung dengan PB Djarum dan meneruskan tongkat estafet prestasi bulu tangkis Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Pencari Bakat PB Djarum, Ricard Mainaky, mengatakan kembalinya audisi ke Makassar merupakan bagian dari strategi “jemput bola”. Setelah tiga tahun terakhir audisi dipusatkan di Kudus, tahun ini PB Djarum kembali mendatangi daerah agar atlet-atlet di luar Pulau Jawa memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan.
“Kalau hanya dipusatkan di Kudus, atlet-atlet daerah sering terkendala bersaing dengan atlet dari klub-klub besar di Pulau Jawa. Karena itu kami datang ke Pekanbaru dan sekarang Makassar agar mereka mendapat kesempatan yang sama,” kata Ricard.
Menurut Ricard, penilaian terhadap peserta belum bisa dilakukan secara menyeluruh pada hari pertama karena pertandingan masih berada pada tahap awal. Kualitas peserta akan lebih terlihat ketika memasuki pertandingan yang lebih ketat.
“Baru hari pertama, jadi belum kelihatan. Besok saat pertandingan lebih ketat baru kita bisa melihat kualitas, kemampuan teknik, dan potensi mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tim pencari bakat tidak hanya menilai siapa yang menjadi juara, tetapi juga memperhatikan teknik dasar, pergerakan kaki, kualitas pukulan, serta semangat juang setiap peserta selama bertanding.
“Yang pertama tentu juaranya. Selain itu kami melihat langkah kaki, pukulan, dan fighting spirit mereka di lapangan. Itu menjadi bagian penting dalam proses penilaian,” jelas Ricard.
Peserta yang berhasil menjadi juara akan langsung mengikuti karantina di PB Djarum di Kudus. Selain itu, peserta lain yang dinilai memiliki potensi juga berpeluang mendapatkan rekomendasi dari tim pencari bakat untuk mengikuti pembinaan. Karantina akan berlangsung setelah seluruh rangkaian Audisi Umum PB Djarum 2026 selesai pada September mendatang, sebelum akhirnya ditetapkan atlet-atlet yang resmi bergabung sebagai binaan PB Djarum.(*)






