Bupati Maros Resmikan Fasilitas PAM Mini Milik Desa Tenrigangkae

Bupati Maros, Chaidir Syam saat memberikan sambutan dalam persemian PAM mini sekaligus panen ikan nila milik Desa Tenrigangkae. (ist)

MAROS – Keterbatasan pasokan air bersih saat musim kemarau mendorong Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, mencari solusi sendiri. Pemerintah desa bersama masyarakat membangun PAM Mini yang kini telah melayani 158 rumah.

PAM Mini tersebut memanfaatkan sumber air dari sumur dengan debit besar yang disebut tidak pernah kering. Pengelolaannya dilakukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Bupati Maros AS Chaidir Syam mengatakan PAM Mini menjadi salah satu inovasi desa untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terutama saat kemarau panjang.

“PAM Mini ini dikelola oleh BumDes desa dan menjadi salah satu inovasi dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih,” kata Chaidir,

Selama ini, warga Tenrigangkae bergantung pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) Patontongan. Namun kapasitas layanan tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga, termasuk permintaan sambungan baru.

Kondisi itu mendorong pemerintah desa mencari sumber air alternatif. Melalui musyawarah desa, sumur yang memiliki debit besar kemudian dikembangkan menjadi PAM Mini.

Saat ini, layanan tersebut baru menjangkau 158 rumah dari potensi hampir 800 rumah di Desa Tenrigangkae. Pemerintah desa menargetkan cakupan layanan terus diperluas hingga seluruh wilayah desa.

Warga untuk sementara belum dikenakan tarif karena PAM Mini masih dalam tahap uji coba. Pemerintah desa tengah menyiapkan Peraturan Desa (Perdes) yang akan mengatur tarif sekaligus memastikan biaya pemeliharaan dan keberlanjutan layanan.

Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, sumber daya air di Tenrigangkae juga dimanfaatkan untuk sektor pertanian.

Desa tersebut mengembangkan jaringan irigasi air tanah (JIAT) yang ditopang sumur bor bantuan pemerintah pusat. Saat ini jaringan tersebut telah mengairi sekitar 2 hektare lahan sawah.

Potensinya masih bisa diperluas hingga 10 hektare. Jika jaringan irigasi diperkuat, cakupan pengairan bahkan berpotensi mencapai 30-40 hektare, termasuk ke wilayah desa sekitar.

Di tengah musim kemarau, kondisi pertanian di Kecamatan Mandai relatif aman. Petani telah mengantisipasi kekeringan dengan mempercepat masa tanam berdasarkan informasi cuaca.

Pemkab Maros juga menyiagakan satuan tugas pompanisasi untuk membantu petani yang membutuhkan pasokan air.

Petani dapat melapor melalui petugas penyuluh lapangan (PPL). Satgas selanjutnya akan mengerahkan pompa ke lokasi yang memiliki sumber air potensial untuk membantu mengairi lahan.

Pemkab Maros juga terus mendorong dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat untuk memperkuat ketahanan sektor pertanian menghadapi musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *