Makassar, Radarmakassar.id — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memastikan kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau dapat terpenuhi. Pemkot Makassar mengerahkan sejumlah perangkat daerah untuk memperkuat distribusi air ke wilayah yang mengalami penurunan tekanan air.
Munafri turun langsung meninjau sejumlah titik penyaluran air dan fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), Rabu (2/9/2026). Peninjauan dilakukan di sejumlah wilayah Kecamatan Tallo, di antaranya Kelurahan Rappokalling, Buloa, Kaluku Bodoa dan Pannampu, serta SPAM di Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea.
Dalam peninjauan tersebut, Munafri memastikan pelayanan air bersih yang dilakukan PDAM melalui mobil tangki dapat berjalan maksimal, baik bagi pelanggan maupun nonpelanggan.
“Hari ini kita meninjau ketersediaan air, kebutuhan akan air bersih bisa terpenuhi dengan baik. Seluruh elemen yang dimiliki pemerintah ikut turun secara bersama-sama,” kata Munafri.
Ia menjelaskan, tekanan air mengalami penurunan akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang. Karena itu, BPBD, PDAM, Dinas Pekerjaan Umum dan perangkat daerah lainnya diminta fokus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“BPBD sudah turun, dan setiap hari ada peningkatan jumlah permintaan. Hari ini sudah menuju angka 50-an titik yang membutuhkan air bersih,” ujarnya.
Selain mengoptimalkan mobil tangki, Pemkot Makassar juga memaksimalkan SPAM yang telah dibangun, sementara dalam proses pembangunan maupun yang sedang menjalani pemeliharaan.
Munafri mengatakan tahun ini terdapat 18 SPAM yang akan dibangun. Sejumlah titik saat ini masih dalam tahap pengerjaan.
“Kontraknya tiga bulan, sudah berjalan satu bulan. Jadi tidak lebih dari dua bulan sudah terbangun lagi SPAM-SPAM yang dalam proses pengerjaan sekarang ini,” jelasnya.
Pemkot juga menyiapkan solusi jangka pendek melalui pembangunan sumur bor konvensional dan penambahan tandon air di sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Menurut Munafri, pembangunan sumur bor konvensional akan dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat agar kebutuhan air dapat segera dipenuhi. Namun, ia mengakui tidak semua pengeboran menghasilkan sumber air yang layak.
Karena itu, selain mencari sumber air baru, pemerintah akan memperbanyak titik penampungan agar distribusi air tidak terpusat pada satu lokasi.
“Yang paling penting adalah tempat penampungannya, seperti tandon. Tandon penampungan itu harus diatur dengan baik supaya kebutuhan masyarakat tidak terfokus pada satu tempat, tapi sudah bisa terdistribusi,” katanya.
Munafri juga memastikan Biaya Tak Terduga (BTT) telah dapat digunakan untuk penanganan dampak kekeringan. Kebijakan tersebut dilakukan karena kondisi kemarau telah masuk dalam wilayah tanggap darurat.
“BTT-nya ini sudah jalan karena kita sudah masuk ke dalam wilayah tanggap darurat. Musim kering ini sangat panjang, mengharuskan kita untuk mengintervensi lebih detail, lebih dalam, lebih besar kepada masyarakat terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar,” tegasnya.
Di sela peninjauan, Munafri juga melihat kawasan permukiman warga di bantaran sungai Kelurahan Buloa yang telah dicat warna-warni. Penataan tersebut dilakukan Pemkot Makassar bersama pemerintah kecamatan dan kelurahan dengan dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Sekitar 200 rumah di kawasan tersebut telah dicat warna-warni. Munafri berharap penataan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
“Pelan-pelanlah. Setelah tampilannya, terus keadaan masyarakatnya, terus-terus kita akan memperhatikan sehingga pemerintah harus hadir di setiap persoalan-persoalan masyarakat,” pungkasnya. (Jar)





