Bandung, Radarmakassar.id – Asosiasi IKATOMI bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) OMI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Neo Bandung pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan ini membahas pengembangan skema kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, sekaligus menjadi forum strategis untuk menyelaraskan standar kompetensi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Dalam kegiatan tersebut, LSP OMI mengeluarkan 18 skema kompetensi baru yang dirancang untuk mendukung kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Salah satu skema yang menjadi perhatian adalah Automation Engineer Industrial 4.0, yang berkaitan dengan kompetensi otomasi industri di era transformasi digital dan revolusi industri 4.0.
FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan industri, pemerintah melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang langsung dihadiri oleh Bapak Miftakul Azis, hingga kalangan pendidikan vokasi SMK dan Politeknik. Keterlibatan lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa pengembangan skema kompetensi tidak hanya sesuai dengan perkembangan teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Direktur Politeknik Bosowa, Dr. Ir. Isminarti, S.T., M.T., menyambut positif pengembangan 18 skema kompetensi baru tersebut. Menurutnya, skema-skema yang dikembangkan LSP OMI memiliki relevansi yang kuat dengan arah pengembangan pendidikan vokasi, khususnya dalam menyiapkan program studi baru di bidang otomasi.
“Pengembangan 18 skema kompetensi baru ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja. Salah satu skema yang sangat relevan adalah Automation Engineer Industrial 4.0, karena sejalan dengan perkembangan teknologi otomasi, sistem kendali, integrasi mesin, serta transformasi digital di sektor industri,” ungkap Direktur Politeknik Bosowa.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Politeknik Bosowa pada tahun 2027 mengusulkan pembukaan Program Studi Sarjana Terapan (D4) Teknologi Rekayasa Otomasi.
Kehadiran program studi tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi Politeknik Bosowa dalam menghasilkan lulusan pendidikan vokasi yang memiliki kompetensi teknis, kemampuan pemecahan masalah, serta kesiapan menghadapi kebutuhan industri modern. Melalui pemanfaatan skema kompetensi yang relevan, proses pembelajaran diharapkan dapat semakin terarah pada penguasaan keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja.
Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi vokasi, industri, lembaga sertifikasi profesi, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada kompetensi. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik dan keterampilan praktis, tetapi juga memiliki jalur untuk membuktikan kompetensinya melalui sertifikasi profesi sesuai skema yang berlaku.
“Pendidikan vokasi harus terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri. Karena itu, penyelarasan kurikulum, pembelajaran berbasis praktik, sertifikasi kompetensi, serta keterlibatan industri perlu menjadi bagian yang saling terintegrasi. Kami melihat pengembangan skema ini sebagai salah satu referensi penting dalam mempersiapkan Prodi D4 Teknologi Rekayasa Otomasi di Politeknik Bosowa,” tambahnya.
FGD di Hotel Neo Bandung ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pengembangan standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Diskusi dan penyelarasan yang dilakukan diharapkan dapat mendorong tersedianya sumber daya manusia vokasi yang kompeten, adaptif, dan mampu berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas serta daya saing industri nasional.
Bagi Politeknik Bosowa, forum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif dalam pengembangan program studi baru yang berorientasi pada kebutuhan masa depan. Melalui penguatan hubungan antara pendidikan, sertifikasi profesi, dan dunia industri, Politeknik Bosowa berkomitmen untuk terus mengembangkan pendidikan vokasi yang relevan, aplikatif, dan berorientasi pada kesiapan kerja lulusan. (*)






