News  

UMI Terjungkan Dokter Spesialis Bedah Bantu Korban Bencana Sumatera dan Aceh

Ketua Yayasan Wakaf Umi, Prof Masrurah (kiri), Rektor UMI Prof. Hambali Thalib dan Ketua Pimbina Yayasan Wakaf UMI Prof. Mansyur Ramly saat konfrensi pers dalam rangka memberi bantuan korban bencana Aceh, Suamtera Barat dan Sumatera Utara di Menara UMI, Jl. Urip Sumohardjo, Minggu (3/12).

Radarmakassar. id – Pimpinan dan sivitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) merespon dampak musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dengan mengirimkan bantuan tenaga medis. 

Sebanyak empat orang tenaga medis pada gelombang pertama telah dikirim sejak beberapa hari lalu dan saat ini telah menjalankan tugas dalam membantu para korban. Mereka terdiri dari dua dokter salah satu diantaranya adalah dokter spesialis bedah dan dua orang dari mahasiswa. Nantinya, tim ini akan bergantian bertugas dengan tim gelombang kedua yang akan segera menyusul berangkat pada Rabu atau Kamis depan.

“Tim kami sudah turun, untuk sementara ini empat orang dokter, akan bergantian. Kerja kita berdasarkan prioritas artinya rumah sakitnya itu bisa saja berpindah pindah dan apakah nanti dibuat rumah sakit darurat atau penampungan darurat sementara tentu melihat situasi,” ungkap Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib saat konfrensi pes di Menara UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Minggu (7/12).

Untuk memastikan situasi terkini pasca bencana khususnya di Sumatera Utara, Rektor UMI Prof Hambali berkomunikasi langsung dengan Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry via telepon. 

Dalam komunikasinya, Akhmad Syukri menyampaikan bahwa pasca bencana melanda 11 hari lalu, sebanyak 51 korban meninggal dunia, 4 korban belum ditemukan karena tertimbun material longsor dan ribuan orang mengungsi.

“Korban tertimbun masih terus dilakukan pencarian. Saat ini ada 4.500 sekian orang yang mengungasi di Kota Sibolga. Kota ini nberada di bawah kaki bukit Barisan yang penduduknya memiliki rumah di gunung dan perbukitan. Sampai hari ini juga cuaca masih hujan dan saya update baru-baru ini terjadu banjir lagi,” ungkapnya.

“Kondisi saat ini banyak sakit sehingga membutuhkan tim medis lebih banyak lagi karena salah satu rumah sakit yang kami punya tidak bisa mengcover keseluruhan korban banjir yang saat ini mengungsi,” sambung Syukri.

Merespon kondisi itu, Prof. Hambali mengatakan bahwa terlepas dari bantuan tenaga medis yang saat ini sudah dikirim, juga akan memetakan kebutuhan skala prioritas para korban untuk kemudian ditindak lanjuti berupa mengirimkan bantuan dalam bentuk donasi. 

“Di sana memang sangat membutuhkan dan apabila kita tidak lakulan (bantu) bisa membawa akibat yang lebih fatal lagi. Tadi pak wali kota berterima kasih karena kita sudah turun, berbela sungkawa dan paling tidak turut mendoakan,” ujarnya.

“Donasi kami dari UMI yang dikoordinir oleh lembaga pengabdian masyarakat akan disampaikan besaran nominalnya tapi audah sumbangkan 60 juta hari ini saya tidak mau menyebut itu karena harua berkonsultasi dengan yayasan sebagai pengambil kebijakan, tapi estimasi kami saya berusaha tidak dibawah itu,” tambah Prof. Hambali.

Disamping donasi dari sivitas akademika, dosen, mahasiswa UMI, ia juga mendorong masyarakat agar memberikan bantuan karena ini iadalah bencana nasional tampa melihat suku, ras dan agama.

Sementara itu, Wakil Dekan III  Fakultas Kedokteran UMI, dr. Irna Diyana Kartika melaporkan bahwa tim medis gelombang pertama saat ini bertugas di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara perbatasan Aceh Tamiang.

“Saat ini juga ada rumah sakit darurat yang dibangun dari tenda untuk sementara di Kuala Simpang aceh, kemudian di sana ada dokter spesialis bedah yang kita kirim dan sangat membantu karena kebanyakan yang datang di situ adalah yang membutuhkan perawatan. Setelah Aceh Tamiang kita akan tambahkan tim untuk kita kirim ke Sibolga,” ungkapnya.

Ia menambahkan korban juga banyak yang cedera dan membutuhkan dokter bedah. Banyak yang luka luka dan membutuhkan perawatan luka. Kebutuhan mendesak dan paling banyak dikeluhkan lainnya adalah air bersih dan perlengkapan pakaian. 

“Kami mohon doanya walaupun belum bisa memberikan yang lebih besar tapi setidaknya kami sudah menginisiasi    termasuk pengumpulan donasi juga hampir Rp100 juta dari fakultas kedokteran bekerja sama LP2M pihak orang tua nahasiswa juga ikut mendonasikan. Hasil donasi tersebut akan kita belikan obat obatan kemudian perlengkapan pakaian, terutama pakain dalam, mukenah, dan yang paling penting air,” jelasnya. 

Pada ksemepatan yang sama Ketua Yayasan Wakaf UMI, Prof. Masrurah Mokhtar menberikan dukungan ke tim yang mewakili UMI turun membantu korban bencana. Ia berharap tim dapat melaporkan apa yang  menjadi kebutuhan pokok para korban.

“Kami tetap menunggu hasil evaluasi apa yang dibutuhkan dan tidak sulit dilakukan. Sepanjang kami bisa akan kami penuhi. UMI sebagai pendidikan dakwah harus selalu siap membantu saudara kita ketika ada yang terkenan musibah,” katanya. (jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *