Metro  

Aksa Mahmud Beli Saham Jawa Pos, Fajar Group Kembali ke Tiga Pendiri

Founder Bosowa Group, H.M. Aksa Mahmud (tengah), resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Fajar Indonesia Corporindo (Fajar Group) setelah membeli saham milik PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN) dan Dorothea Samola, Kamis (23/7).

Makassar, Radarmakassar.id – Founder Bosowa Group, H.M. Aksa Mahmud, resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Fajar Indonesia Corporindo (Fajar Group) setelah membeli saham milik PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN) dan Dorothea Samola. Dengan transaksi tersebut, kepemilikan Aksa Mahmud mencapai sekitar 49,88 persen atau hampir setengah dari total saham perusahaan yang menjadi holding seluruh unit usaha Fajar Group.

Direktur Utama PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN), Suhendro Boroma, mengatakan proses pengalihan saham telah rampung sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Anggaran Dasar Perseroan dalam Rapat Umum Pemegam Saham (RUPS) di Gedung Graha Pena, Kamis (23/7).

“Saham Jawa Pos maupun saham Ibu Dorothea Samola sudah beralih kepada Bapak H.M. Aksa Mahmud di PT Fajar Indonesia Corporindo. Dengan demikian, saat ini Bapak H.M. Aksa Mahmud menjadi pemegang saham terbesar sekaligus pemegang saham pengendali,” ujar Suhendro.

Ia menjelaskan, setelah transaksi tersebut, komposisi pemegang saham utama PT Fajar Indonesia Corporindo berturut-turut adalah H.M. Aksa Mahmud, ahli waris almarhum H. Alwi Hamu, dan Jusuf Kalla melalui PT Yana Investama.

Menurut Suhendro, perubahan struktur kepemilikan ini mengembalikan Fajar kepada tiga tokoh yang merintis berdirinya perusahaan media tersebut, yakni H.M. Aksa Mahmud, almarhum H. Alwi Hamu, dan Jusuf Kalla.

“Kalau melihat sejarahnya, ini seperti kembali kepada Three Musketeers. Ketiga tokoh inilah yang merintis Fajar sejak masih menjadi aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1966 hingga berkembang menjadi Fajar Group seperti sekarang,” katanya.

Ia menambahkan, PT Fajar Indonesia Corporindo merupakan holding yang membawahi seluruh lini usaha Fajar Group, mulai dari media cetak, media digital, media elektronik, properti, klinik, transportasi, universitas, hingga berbagai unit bisnis lainnya.

Suhendro optimistis masuknya Aksa Mahmud sebagai pemegang saham pengendali akan memperkuat Fajar Group di tengah tantangan industri media yang semakin besar akibat perkembangan teknologi digital.

“Kami berharap komitmen dan idealisme Pak Aksa sebagai salah satu pendiri Fajar dapat membawa kemajuan bagi seluruh entitas Fajar Group,” ujarnya.

Sementara itu, Aksa Mahmud mengungkapkan keputusan membeli saham Jawa Pos bukan bagian dari rencana bisnis Bosowa Group tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah mengetahui Jawa Pos membuka penawaran penjualan sahamnya dengan batas waktu tertentu.

Aksa mengaku awalnya meminta Agus Alwi Hamu untuk mengambil saham tersebut. Namun karena tidak memungkinkan, ia memutuskan membeli sendiri agar kepemilikan Fajar tetap berada di lingkungan para pendirinya.

“Saya telepon Agus, saya bilang beli itu sahamnya Jawa Pos. Tapi dia bilang tidak bisa. Saya bilang, kalau begitu biar saya yang maju supaya tetap kita pertahankan Fajar ini dalam suasana kekeluargaan,” kata Aksa.

Ia menjelaskan, sebelumnya Jawa Pos merupakan pemegang saham terbesar di PT Fajar Indonesia Corporindo dengan porsi sekitar 40,5 persen, sedangkan dirinya justru menjadi pemegang saham paling kecil di antara tiga pendiri Fajar.

“Dulu saya yang paling kecil sahamnya. Sekarang, setelah perubahan ini, justru saya yang menjadi pemegang saham terbesar,” ujarnya.

Aksa juga mengenang awal berdirinya Harian Fajar bersama almarhum Alwi Hamu dan Jusuf Kalla. Menurutnya, ketiganya sempat mempertimbangkan menggandeng Kompas maupun Jawa Pos sebagai mitra strategis sebelum akhirnya memilih Jawa Pos karena berbagai pertimbangan, termasuk kedekatan dengan Dahlan Iskan.

Ia menegaskan, langkah membeli saham Jawa Pos didorong oleh pertimbangan historis sekaligus keinginan menjaga cita-cita dan idealisme yang dibangun para pendiri Fajar sejak awal.

“Saya mengambil saham itu supaya Fajar tetap berada dalam suasana kekeluargaan dan sejarah yang sudah kami bangun bersama tetap terjaga,” kata Aksa.

Dengan perubahan tersebut, PT Fajar Indonesia Corporindo kini resmi berada di bawah kendali H.M. Aksa Mahmud sebagai pemegang saham pengendali, sementara ahli waris Alwi Hamu dan Jusuf Kalla tetap menjadi pemegang saham utama perusahaan. (Jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *