Makassar, Radarmakassar.id – PT Bank Central Asia Tbk (BCA), melalui payung program creating shared value (CSV) Bakti BCA, telah memilih 6 tim terbaik dari Pulau Sulawesi yang berhak mengikuti final Teacher Tech Championship 2026 di Jakarta pada 19-21 Oktober 2026 mendatang. Teacher Tech Championship merupakan kompetisi dan pengembangan profesional guru SMA/MA pengampu mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, serta Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU).
Di babak semifinal yang diselenggarakan pada Sabtu (19/9/2026), setiap tim wajib melakukan presentasi inovasi di hadapan dewan juri. Babak penjurian yang sengit pun menghasilkan 6 tim terbaik, yakni MAN 2 Kota Makassar (Sulawesi Selatan), SMA Negeri 2 Bitung (Sulawesi Utara), SMAN 1 Kendari (Sulawesi Tenggara), MAN Pinrang (Sulawesi Selatan), SMAN 1 Kabila (Gorontalo), MAN 3 Kota Makassar (Sulawesi Selatan).
Teacher Tech Championship 2026 diikuti lebih dari 350 pendaftar dan setelah melewati rangkaian babak penyisihan terpilihlah 12 tim terbaik dari enam provinsi di Pulau Sulawesi. Sebelum mengikuti babak semifinal, 12 tim ini mengikuti serangkaian workshop terkait penguatan ketangguhan dan kemampuan adaptasi guru, penguatan konsep STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika), design thinking, serta pengembangan prototipe alat bantu pembelajaran. Hal ini sebagai bentuk komitmen Bakti BCA untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
“Kami mengucapkan selamat kepada enam tim terpilih yang akan melaju ke babak final di Jakarta. BCA sangat mengapresiasi segala inovasi yang dibawa oleh seluruh peserta Teacher Tech Championship 2026. Harapannya, inovasi yang telah dilahirkan tidak berhenti di kompetisi ini saja namun berlanjut ke sekolah masing-masing,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
Hera mengungkapkan Teacher Tech Championship merupakan wujud konsistensi BCA dalam memperkuat kapasitas guru di Indonesia. Di mata BCA, Hera menambahkan, guru memiliki peran sentral dalam membentuk generasi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“BCA berharap kompetisi ini dapat mendorong para guru untuk tetap semangat dalam menciptakan inovasi baru dalam pembelajaran. Terlebih, kami ingin memastikan setiap inovasi yang lahir berangkat dari persoalan pedagogis nyata di sekolah, sehingga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan bagi para siswa,” kata Hera F. Haryn.
Dengan mengangkat tema “Inovasi alat bantu pembelajaran berbasis STEM dan difokuskan pada koding serta Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung Deep Learning (Pembelajaran berkesadaran, bermakna dan menggembirakan)”, rangkaian Teacher Tech Championship 2026 dirancang secara komprehensif dari Juni hingga Oktober 2026 melalui lima tahapan berkesinambungan.
Perjalanan para peserta dimulai dari babak penyisihan secara online, bootcamp hingga puncak rangkaian program akan diselenggarakan pada Babak Final di Jakarta pada 19–21 Oktober 2026, yang mencakup sesi microteaching dan unjuk karya prototipe untuk menentukan tiga pemenang utama.
Sebagai wujud apresiasi, Bakti BCA akan memberikan bantuan pendanaan karya, fasilitas akomodasi penuh, sertifikat, serta tabungan dana pendidikan bagi para pemenang. Khusus bagi tiga tim pemenang utama, Bakti BCA juga akan memfasilitasi pendaftaran Hak Cipta resmi di DJKI atas karya inovasi yang diciptakan, serta mendukung juara TTC untuk bersaing di kompetisi tingkat nasional.
“Kami percaya, perubahan besar dalam pendidikan selalu dimulai dari para guru yang mau terus berkembang. Melalui pilar Bakti Pendidikan di bawah payung Bakti BCA, BCA berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas SDM Indonesia,” tandas Hera F. Haryn.
Untuk diketahui, ada sebanyak 357 tim guru dari berbagai provinsi di Sulawesi mengikuti rangkaian Teacher Tech Championship (TTC) 2026 yang digelar Bakti BCA. Setiap tim terdiri atas dua orang guru, dengan hampir seluruh provinsi di Sulawesi mengirimkan perwakilan.
Dari ratusan peserta tersebut, sebanyak 12 tim terbaik berhasil lolos ke babak semifinal. Mereka membawa beragam inovasi pembelajaran berbasis teknologi yang dirancang berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi di ruang kelas.
Mentor TCC Muhammad Fauzi mengatakan, dari 12 tim semifinalis, sebagian besar peserta mengembangkan inovasi berbasis aplikasi dan website. Namun, sejumlah peserta juga memadukannya dengan perangkat keras atau hardware.
“Kalau dari 12 ini kebanyakan mereka menggunakan aplikasi. Cuma ada beberapa yang selain membuat aplikasi atau website, juga membuat hardware,” ujar Fauzi.
Menurutnya, kreativitas para guru peserta TTC 2026 menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran berbasis teknologi mulai berkembang di Sulawesi. Bahkan, sejumlah peserta telah merancang teknologi yang memungkinkan pembelajaran diterapkan di wilayah yang memiliki keterbatasan akses internet.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah aplikasi pembelajaran matematika yang mendorong siswa tidak hanya belajar dengan duduk di meja. Melalui aplikasi tersebut, siswa diminta melakukan pemindaian atau scan, kemudian bergerak mencari tantangan pembelajaran di lokasi tertentu.
“Biasanya matematika hanya mengerjakan di meja, tapi ini siswa diminta untuk scan, terus berjalan ke mana, baru mendapatkan tantangan,” jelasnya.
Mentor lainnya, Indra Setiawan juga menjelaskan, TTC 2026 diarahkan untuk menghasilkan alat bantu pembelajaran berbasis STEM, yakni Science, Technology, Engineering, and Mathematics.
Program tersebut juga memperkenalkan pendekatan STEM kepada para guru di Sulawesi yang dinilai belum sepenuhnya familiar dengan konsep tersebut.
“Tujuan akhirnya adalah Bapak dan Ibu bisa membuat alat inovasi bantu pembelajaran berbasis STEM. Hasil akhirnya alat bantu pembelajaran berbasis STEM,” katanya.
Ia menegaskan, program tersebut tidak secara khusus ditujukan untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Namun, sejumlah peserta secara mandiri merancang inovasi yang dapat digunakan di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet.
Salah satunya dengan membuat alat yang dapat diakses secara offline sehingga tetap bisa digunakan dalam proses pembelajaran tanpa bergantung pada koneksi internet.
Indra juga menegaskan bahwa alat yang dikembangkan peserta tidak terhubung langsung dengan sistem Kementerian Pendidikan. Fungsinya lebih diarahkan untuk membantu guru menerapkan pembelajaran mendalam yang mendorong proses belajar berkesadaran dan menyenangkan.
Setelah babak semifinal, enam tim terbaik dipilih untuk melaju ke babak final di Jakarta. Keenam tim tersebut akan mengimplementasikan inovasinya selama sekitar 30 hari sebelum memberikan laporan mengenai dampak alat yang dikembangkan terhadap motivasi dan hasil belajar siswa.
Satu tim terbaik nantinya juga akan mendapat pendampingan untuk mengikuti kompetisi pada level yang lebih tinggi, baik nasional maupun internasional. Selain itu, karya inovasi yang dinilai potensial akan mendapat dukungan dalam proses pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Tidak hanya peserta yang lolos ke final, seluruh tim juga didorong untuk menerapkan inovasinya di kelas masing-masing dan membagikan praktik tersebut kepada guru lain di sekolah.
“Setelah kegiatan ini seluruh tim punya tanggung jawab untuk mengimplementasikan pembelajaran di kelas. Mereka juga kita dorong untuk bisa mendiseminasikannya kepada guru di sekolah-sekolah lain,” kata Indra.
Jumlah peserta TTC 2026 juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari proses pendaftaran dan verifikasi, tercatat 357 tim terverifikasi dari seluruh Sulawesi. Hampir seluruh provinsi mengirimkan perwakilan, meski jumlah peserta setiap provinsi berbeda sesuai dengan jumlah sekolah.
Indra berharap para guru yang mengikuti TTC 2026 tidak berhenti berinovasi setelah kompetisi berakhir. Para peserta diharapkan terus meningkatkan kemampuan secara mandiri sekaligus memperluas manfaat inovasi kepada guru dan siswa lainnya.
“Kami bersyukur mendapatkan guru-guru yang hebat dan punya komitmen luar biasa untuk terus belajar dan mengembangkan inovasinya. Harapannya mereka bisa terus meng-upgrade dirinya secara mandiri, kemudian memperluas dampak dan manfaatnya kepada guru yang lain,” pungkasnya. (Jar)






