Radarmakassar.id, Makassar – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia justru memiliki peluang besar untuk tumbuh berkat bonus demografi dan potensi kewirausahaan generasi muda. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila kualitas sumber daya manusia terus ditingkatkan melalui penguasaan keterampilan masa depan, penguatan inovasi, serta pengembangan jiwa kewirausahaan yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar mencari pekerjaan.
Untuk itu, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem yang mendukung pengembangan talenta, riset, inovasi, serta transformasi industri. Melalui sinergi tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang adaptif terhadap perubahan teknologi, berdaya saing global, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Unhas bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menghadirkan kuliah umum APINDO Goes to Campus dengan tema “Membangun generasi Entrepreneur dan Pencipta Lapangan Kerja di Tengah Ketidakpastian Global”. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani sebagai narasumber.
Shinta menyebutkan, ketidakpastian ekonomi global telah membawa dampak nyata terhadap dunia usaha, mulai dari meningkatnya biaya produksi, melemahnya daya beli masyarakat, hingga perlambatan investasi dan penciptaan lapangan kerja. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dipahami generasi muda karena akan memengaruhi arah pembangunan ekonomi, peluang kerja, dan daya saing Indonesia di masa mendatang.
Di sisi lain, Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi yang didominasi oleh generasi muda. Namun, bonus tersebut tidak secara otomatis menjadi keuntungan ekonomi apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tantangan seperti kesenjangan keterampilan, rendahnya produktivitas tenaga kerja, serta belum optimalnya kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri menjadi pekerjaan bersama yang harus segera diatasi
“Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh kualitas manusianya. Karena itu, kita harus membangun generasi yang memiliki keterampilan masa depan, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta memiliki keberanian menjadi entrepreneur dan pencipta lapangan kerja,” jelas Shinta.
Menurut Shinta, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), akan mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Oleh karena itu, generasi muda perlu membekali diri dengan keterampilan masa depan melalui proses upskilling dan reskilling, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, adaptasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah agar tetap relevan di tengah transformasi industri.
Lebih jauh, Shinta menyebutkan, kewirausahaan dipandang sebagai salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan tersebut. Indonesia memiliki ekosistem UMKM dan startup yang terus berkembang, namun masih membutuhkan lebih banyak wirausahawan yang mampu menciptakan inovasi dan membuka lapangan kerja.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan berupa akses pembiayaan, penguatan kapasitas, regulasi yang kondusif, serta kolaborasi lintas sektor agar potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal
“Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang mampu mengubah talenta menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” tambah Shinta.
Sebelum paparan materi, Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., dalam sambutan pembukaannya menyebutkan, tantangan global harus dijawab melalui transformasi pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia usaha. Menurutnya, lulusan masa depan dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, daya analitis, serta kecakapan menyelesaikan persoalan kompleks yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
“Masifnya perkembangan AI, transisi menuju green economy, dan perang talenta merupakan tiga mega-tren yang sedang membentuk masa depan. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan kewirausahaan,” jelas Prof. JJ.
Peran perguruan tinggi tidak berhenti pada menghasilkan riset berkualitas. Hasil penelitian harus dihilirisasi menjadi teknologi, produk, maupun model bisnis yang memberikan nilai tambah bagi industri dan manfaat nyata bagi masyarakat. Atas dasar itu, Unhas terus memperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan bisnis kampus, hilirisasi riset, dan kolaborasi dengan dunia usaha agar semakin banyak lahir job creator dari lingkungan perguruan tinggi.
Menurut Prof. JJ, kolaborasi dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) merupakan langkah strategis untuk mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Sinergi tersebut memungkinkan riset lebih aplikatif, membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman, sekaligus memperluas peluang mahasiswa membangun kompetensi yang relevan dengan dinamika ekonomi global.
Melalui kuliah umum yang berlangsung pada Senin (03/08) di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Unhas Tamalanrea, Unhas dan APINDO membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi disrupsi global.
Gagasan yang mengemuka dalam forum ini sekaligus mempertegas komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi masa depan, SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat. (*)






