Inovasi di TTC 2026, Guru MAN 3 Makassar Rancang Lab Virtual untuk Atasi Limbah Cair

Mardhiyyatin Naqiyah bersama Sri Asuti dari MAN 3 Kota Makassar.

Makassar, Radarmakassar.id — Keterbatasan fasilitas laboratorium tak menjadi penghalang bagi guru MAN 3 Kota Makassar untuk menghadirkan pembelajaran kimia yang interaktif. Melalui ajang Teacher Tech Championship (TTC) 2026, guru MAN 3 Makassar menghadirkan inovasi bernama ChemMission WebLab, laboratorium virtual yang mengajak siswa memecahkan persoalan limbah cair industri.

Inovasi tersebut dikembangkan Mardhiyyatin Naqiyah bersama Sri Asuti dari MAN 3 Kota Makassar. ChemMission dirancang sebagai laboratorium virtual berbasis skenario misi lingkungan industri, sehingga siswa tidak sekadar melakukan simulasi praktikum, tetapi berperan sebagai Environmental Chemical Auditor.

Mardhiyyatin Naqiyah mengatakan, ide tersebut berangkat dari kondisi sekolah yang belum memungkinkan melaksanakan praktikum kimia secara optimal menggunakan peralatan kompleks dan bahan kimia secara langsung.

“Untuk kegiatan ini, kami berinovasi membuat semacam lab virtual. Ini dilatarbelakangi kondisi sekolah kami yang saat ini belum memungkinkan praktikum real dengan alat yang rumit, lengkap, dan zat kimia karena berkaitan dengan kimia,” kata Mardhiyyatin., Kamis (17/9).

Melalui ChemMission, siswa diberikan misi untuk mengaudit sekaligus menetralkan sampel air limbah industri yang bersifat korosif sebelum dibuang ke lingkungan.

Persoalan limbah dipilih karena MAN 3 Makassar berada di sekitar kawasan industri, termasuk dekat dengan fasilitas Kimia Farma di Daya. Kondisi tersebut kemudian dijadikan konteks pembelajaran agar siswa dapat memahami persoalan lingkungan yang ada di sekitar mereka.

“Fokusnya ke limbah cair. Siswa belajar bagaimana mengatasi limbah industri di sekitar mereka melalui aplikasi ini, sampai limbah tersebut menjadi netral dan layak dibuang,” ujarnya.

ChemMission dilengkapi dashboard guru dan siswa. Aktivitas siswa yang menggunakan aplikasi dapat dipantau guru secara real-time, sehingga guru dapat mengetahui proses belajar sekaligus mengevaluasi pemahaman peserta didik.

Tidak hanya itu, aplikasi tersebut juga menyediakan rak reagen digital dan instrumen titrasi, seperti buret digital, indikator universal, buret otomatis, serta berbagai larutan netralisasi.

Siswa dituntut menentukan sendiri takaran dan konsentrasi larutan untuk mencapai kondisi pH yang sesuai. Sistem kemudian memberikan respons terhadap setiap tindakan siswa melalui perubahan grafik pH dan indikator warna yang menggambarkan reaksi kimia.

Setelah misi selesai, sistem memberikan laporan otomatis mengenai keberhasilan proses netralisasi, efisiensi penggunaan reagen, hingga catatan mengenai potensi miskonsepsi siswa. Target netralisasi yang digunakan berada pada rentang pH 6,5–8,5.

ChemMission juga dirancang sebagai aplikasi hybrid berbasis web dan Android yang offline-ready. Dengan konsep tersebut, aplikasi diharapkan tetap dapat digunakan melalui smartphone siswa tanpa membutuhkan koneksi internet secara terus-menerus.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari partisipasi guru MAN 3 Makassar dalam Teacher Tech Championship (TTC) 2026, program kompetisi dan pengembangan profesional guru yang digelar BCA melalui payung Bakti BCA.

Bagi tim MAN 3 Makassar, keikutsertaan dalam TTC 2026 bukan hanya menjadi ajang memperkenalkan inovasi pembelajaran, tetapi juga kesempatan menguji sejauh mana ChemMission dapat diterapkan kepada peserta didik.

“Harapan pertama bisa menang, insyaallah,” kata Mardhiyyatin.

TTC 2026 berfokus pada pengembangan inovasi pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dengan tema “Inovasi alat bantu pembelajaran berbasis STEM untuk mendukung Deep Learning.”

Program tersebut memasuki tahun kedua dan diikuti guru SMA/MA di enam provinsi di Pulau Sulawesi, yakni Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Kompetisi terbuka bagi guru mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Informatika, serta Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU).

Direktur BCA Antonius Widodo mengatakan TTC menjadi ruang bagi para guru untuk terus berinovasi dan memanfaatkan teknologi secara adaptif dalam proses pembelajaran.

“Ketika guru memiliki ruang untuk berkembang, mereka akan mampu menciptakan pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dan interaktif bagi generasi masa depan,” kata Antonius.

Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan inovasi berbasis STEM dalam TTC 2026 diharapkan dapat mendukung penerapan metode pembelajaran deep learning di kelas.

“Dengan alat bantu ajar yang kreatif, kami ingin membantu para siswa tumbuh menjadi individu yang kritis, kolaboratif, dan siap menghadapi dinamika kompetisi global di masa mendatang,” ujarnya. (Jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *