Makassar,Radarmakassar.id — Persoalan pemborosan listrik di sekolah mendorong guru SMA Negeri 2 Bitung, Sulawesi Utara, menciptakan inovasi berbasis teknologi bernama Saver-Kit.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam ajang Teacher Tech Championship (TTC) 2026, program kompetisi sekaligus pengembangan profesional guru yang digelar PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA.
TTC 2026 secara khusus mempertemukan guru SMA/MA di wilayah Sulawesi yang mengampu mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Informatika, dan Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU). Kegiatan berlangsung selama sepekan dan dijadwalkan berakhir pada Sabtu, 19 September 2026, di Hotel Santika Makassar.
Salah satu peserta, Fredynandus Takalamingan dari SMA Negeri 2 Bitung, mengatakan Saver-Kit lahir dari persoalan sederhana yang kerap ditemukan di lingkungan sekolah, yakni lampu yang tetap menyala meski ruang kelas kosong atau cahaya matahari sudah cukup.
“Di sekolah itu banyak anak-anak yang kadang kelas sudah terang, tetapi lampunya tetap menyala. Kami sudah pernah mengingatkan dan memasang stiker di dekat sakelar, tetapi perubahan yang terjadi masih sedikit,” kata Fredynandus, Kamis (17/9).
Dari persoalan tersebut, ia bersama rekannya Justin Rarase Tacazily yang merupakan guru Informatika mencoba mengembangkan solusi dengan memadukan konsep Fisika dan Informatika.
Menurutnya, persoalan pemborosan listrik menjadi semakin signifikan karena SMA Negeri 2 Bitung memiliki sekitar 40 rombongan belajar. Belum termasuk penggunaan listrik di laboratorium dan ruang guru.

“Kalau satu kelas saja terjadi pemborosan, kemudian dikalikan 40 kelas, tentu biaya listrik bulanan bisa membengkak. Karena itu kami mengambil masalah yang ada di sekolah dan mengubahnya menjadi bahan pembelajaran sekaligus solusi,” jelasnya.
Saver-Kit dikembangkan dalam bentuk Smart Energy Virtual Simulator & Sensor Kit, yang menggabungkan simulasi digital dengan perangkat fisik berbasis sensor.
Dalam simulasi pertama, siswa dapat melihat kondisi ruang kelas analog, yakni lampu dioperasikan menggunakan sakelar manual. Sistem kemudian menghitung penggunaan energi dan estimasi biaya listrik ketika lampu menyala selama beberapa jam.
Skenario kedua menggunakan ruang kelas pintar dengan sensor PIR dan LDR. Sensor PIR berfungsi mendeteksi keberadaan atau pergerakan siswa, sedangkan LDR membaca intensitas cahaya di dalam ruangan.
Dengan sistem tersebut, lampu dapat menyala ketika ruangan digunakan dan mati ketika tidak ada aktivitas. Sementara sensor LDR memungkinkan sistem merespons kondisi pencahayaan alami.
“Saat ruangan terang, lampu bisa mati. Kalau gelap, lampu menyala. Kemudian kami kombinasikan dengan PIR. Jadi kalau ruangan gelap dan ada siswa, lampu menyala. Kalau gelap tetapi tidak ada siswa, lampu tetap mati,” ujarnya.
Konsep serupa juga diterapkan dalam simulasi lorong sekolah pintar. Lampu pada titik tertentu akan menyala mengikuti pergerakan objek atau avatar, sementara lampu di area yang tidak digunakan tetap mati.
Tak hanya mengandalkan sensor, Saver-Kit juga dilengkapi kalkulator energi dan biaya otomatis. Sistem dapat menghitung daya serta konsumsi energi listrik, mengubahnya menjadi estimasi biaya dalam rupiah, hingga membandingkan penggunaan listrik antara sistem manual dan sistem sensor otomatis.
Dengan begitu, siswa tidak hanya mempelajari rumus energi dan daya secara teori, tetapi dapat melihat langsung dampak penggunaan listrik terhadap biaya.
“Anak-anak tidak hanya tahu rumus energi atau daya, tetapi bisa mensimulasikannya. Mereka juga belajar coding, mikrokontroler, bahkan bagaimana teknologi digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata,” kata Fredynandus.
Untuk perangkat fisiknya, Saver-Kit menggunakan microcontroller, relay, sensor PIR, sensor LDR, dan lampu LED. Siswa dapat menguji sensor dengan gerakan tangan maupun simulasi kondisi gelap.
Demi keamanan dalam proses praktikum, perangkat tersebut tidak menggunakan aliran listrik langsung dari PLN. Sistem menggunakan lampu LED dan sumber daya dari power bank.
“Karena ini untuk anak-anak dan praktikum, aspek keselamatan menjadi perhatian. Kami tidak menggunakan arus langsung dari PLN. Jadi lebih aman untuk siswa,” jelasnya.
Menariknya, Saver-Kit juga dirancang agar dapat digunakan tanpa koneksi internet. Selain perangkat fisik, inovasi tersebut dilengkapi portal berbasis web yang memungkinkan siswa melakukan simulasi penggunaan energi secara interaktif.
Fredynandus berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek kompetisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi media pembelajaran yang membantu siswa memahami hubungan antara teknologi, efisiensi energi, dan persoalan yang mereka temui sehari-hari.
Diketahui, TTC 2026 ini merupakan program kompetisi dan pengembangan profesional guru ini berfokus pada inovasi pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). TTC 2026 merupakan wujud konsistensi BCA dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dan mendukung program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait pembelajaran Koding & Kecerdasan Buatan.
Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, TTC hadir untuk para guru SMA/MA di enam provinsi di Pulau Sulawesi, yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Tercatat ada 24 orang dengan jumlah 12 tim yang ikut dalam kompetisi tahun ini.
“Melalui Teacher Tech Championship 2026, kami ingin berjalan beriringan bersama para guru di Sulawesi untuk terus berinovasi dan memanfaatkan teknologi secara adaptif. Kami percaya, ketika guru memiliki ruang untuk berkembang, mereka akan mampu menciptakan pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dan interaktif bagi generasi masa depan,” kata Direktur BCA Antonius Widodo.
Pada TTC 2026, rangkaian kegiatan dirancang komprehensif tidak hanya untuk memfasilitasi para peserta berkompetisi, melainkan juga membekali peserta melalui rangkaian bootcamp intensif dan pendampingan khusus.
Para guru akan mendapatkan penguatan kompetensi di bidang berpikir komputasional (computational thinking), koding dasar, pemanfaatan akal imitasi (AI), serta penerapan metode design thinking untuk melahirkan prototipe alat bantu ajar yang relevan dengan tantangan di sekolah masing-masing.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn berharap inovasi berbasis STEM dalam TTC 2026 dapat menjadi katalisator pendukung lahirnya metode pembelajaran deep learning di kelas.
“Dengan alat bantu ajar yang kreatif, kami ingin membantu para siswa tumbuh menjadi individu yang kritis, kolaboratif, dan siap menghadapi dinamika kompetisi global di masa mendatang,” kata Hera. (Jar)






