Radarmakassar.id, Makassar – Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan komitmen pemerintah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin melalui pembangunan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
Saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Pajjaiang, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Jumat (7/8), ia mengungkapkan gedung permanen Sekolah Rakyat yang dibangun di Sulawesi Selatan untuk menampung 2.000 siswa.
Menurut Saifullah, gedung Sekolah Rakyat awalnya dirancang berkapasitas 1.000 siswa. Namun, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kapasitasnya ditingkatkan agar dapat menampung lebih dari 2.000 peserta didik dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
“Target Bapak Presiden, setiap kabupaten, kota, dan provinsi memiliki satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Jika dalam tiga hingga empat tahun ke depan terbangun lebih dari 500 gedung dengan kapasitas sekitar 2.000 siswa, maka akan ada lebih dari satu juta siswa Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia,” kata pria yang akrab dispa Gus Ipul.
Ia menyebut Sekolah Rakyat merupakan wujud kehadiran negara bagi anak-anak dari keluarga yang paling tidak mampu, termasuk mereka yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan secara optimal.
“Banyak orang tua yang tidak mampu menebus ijazah anaknya, tidak bisa menyediakan makan tiga kali sehari, bahkan tidak mampu membelikan seragam sekolah. Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk pelaksanaan amanat Pasal 34 UUD 1945 bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,” ujarnya.
Gus Ipul mengatakan, setelah satu tahun berjalan, program Sekolah Rakyat menunjukkan perkembangan positif. Selain mengalami peningkatan kemampuan akademik, para siswa dinilai semakin percaya diri, berkembang secara mental, serta memperoleh pembinaan karakter dan keterampilan.
Ia juga menegaskan Sekolah Rakyat tidak menerapkan seleksi akademik. Seluruh siswa diterima berdasarkan kriteria sosial, kemudian didampingi untuk mengembangkan potensi sesuai bakat dan minat masing-masing, termasuk bagi penyandang disabilitas.
“Semua dilayani sesuai minat dan bakatnya. Yang dikuatkan adalah talenta dan keunikan setiap anak agar mereka memiliki bekal menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan terampil,” katanya.
Gus Ipul juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam pengembangan program tersebut. Menurutnya, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar Sekolah Rakyat dapat menjangkau lebih banyak anak dari keluarga miskin.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyatakan siap mendukung pembangunan Sekolah Rakyat di seluruh kabupaten dan kota di Sulsel, termasuk dengan menyiapkan lahan apabila pemerintah daerah mengalami keterbatasan.
“Kami terus menambah aset untuk pembangunan Sekolah Rakyat. Kalau ada daerah yang kesulitan lahan, provinsi siap memberikan lahan agar program ini bisa hadir di seluruh Sulawesi Selatan,” ujar Andi Sudirman.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Sulsel, Widya Wati, menjelaskan sekolah tersebut kini menampung 415 siswa setelah resmi terintegrasi. Jumlah itu terdiri atas 145 siswa angkatan sebelumnya dan tambahan 270 siswa baru yang berasal dari jenjang SD, SMP, dan SMA.
Menurutnya, kurikulum Sekolah Rakyat tidak hanya menitikberatkan pada akademik, tetapi juga pendidikan karakter, pengembangan bakat melalui asesmen talenta, serta pelatihan life skill yang didukung instruktur dari berbagai lembaga, termasuk TNI dan instansi lainnya.
Widya mengungkapkan mayoritas siswa berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang keluarga rentan, seperti yatim piatu, korban kekerasan, anak jalanan hingga penyintas penyalahgunaan narkoba. Seluruh siswa mendapat pendampingan intensif, termasuk rehabilitasi bagi yang membutuhkan.
“Pendekatannya bukan menghukum, tetapi membina. Anak-anak didampingi sejak bangun pagi hingga kembali beristirahat. Fokus kami adalah membangun karakter, mengembangkan bakat, dan mempersiapkan masa depan mereka,” ujar Widya. (Jar)






