Radarmakassar.id, Makassar – Sekolah Rakyat Terintegrasi Makassar memberikan pendampingan penuh kepada seluruh siswanya, termasuk peserta didik penyandang disabilitas. Pendampingan dilakukan melalui asesmen bakat, penguatan karakter, hingga pembinaan khusus yang disesuaikan dengan potensi dan cita-cita masing-masing siswa.
Kepala Sekolah Rakyat Makassar, Widya Wati menjelaskan, program pendidikan di sekolah tersebut tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan life skill. Setiap siswa menjalani asesmen untuk memetakan potensi yang dimiliki sehingga pembinaan dapat diberikan secara lebih tepat.
“Anak-anak, termasuk yang disabilitas, diasesmen untuk mengetahui bakatnya. Ada yang memiliki kemampuan bahasa Inggris, ada yang berbakat menyanyi, ada yang bercita-cita menjadi anggota TNI, polisi, hingga wirausahawan. Semua dikembangkan sesuai talent mereka,” ujarnya, usai menerima kunjungan Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf dalam agenda peninjauan, pada Jumat (7/8).
Menurutnya, setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung pukul 07.30 hingga 16.00 Wita, para siswa mendapat pendampingan lanjutan dari wali asrama dan instruktur profesional dari luar sekolah. Pendampingan tersebut diwujudkan melalui berbagai program life skill dan pembinaan sesuai minat masing-masing siswa.
Sekolah juga menjalin kerja sama dengan berbagai instansi. Misalnya, siswa yang bercita-cita menjadi anggota TNI mendapatkan pembinaan khusus melalui kolaborasi dengan TNI pada sore hari.
Selain pengembangan bakat, sekolah menerapkan sistem pembinaan selama 24 jam karena seluruh siswa tinggal di asrama. Jadwal harian diisi dengan kegiatan akademik, pembentukan karakter, ibadah, hingga pengembangan keterampilan sehingga siswa tetap aktif sepanjang hari.
Pendekatan tersebut juga dinilai efektif membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada masa awal masuk sekolah, sebagian siswa mengalami homesick. Namun, melalui asesmen, pendekatan personal, dan aktivitas yang terstruktur, mereka perlahan merasa nyaman tinggal di asrama.
“Kami mencari dulu potensi anak, kemudian memberikan penguatan di bidang itu. Dari bangun pagi sampai tidur kembali, hampir tidak ada waktu yang tidak diisi kegiatan yang bermanfaat,” katanya.
Saat ini Sekolah Rakyat Terintegrasi Makassar menampung total 415 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA. Sekolah tersebut melayani peserta didik dari 12 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang belum memiliki Sekolah Rakyat di daerahnya.
Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan komitmen pemerintah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin melalui pembangunan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
Saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi di Jalan Pajjaiang, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Jumat (7/8), ia mengungkapkan gedung permanen Sekolah Rakyat yang dibangun di Sulawesi Selatan disiapkan untuk menampung lebih dari 2.000 siswa.
Menurut Saifullah, gedung tersebut awalnya dirancang berkapasitas 1.000 siswa. Namun, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kapasitasnya ditingkatkan agar dapat menampung lebih dari 2.000 peserta didik dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
“Target Bapak Presiden, setiap kabupaten, kota, dan provinsi memiliki satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Jika dalam tiga hingga empat tahun ke depan terbangun lebih dari 500 gedung dengan kapasitas sekitar 2.000 siswa, maka akan ada lebih dari satu juta siswa Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia,” kata pria yang akrab dispa Gus Ipul.
Ia menyebut Sekolah Rakyat merupakan wujud kehadiran negara bagi anak-anak dari keluarga yang paling tidak mampu, termasuk mereka yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan secara optimal.
“Banyak orang tua yang tidak mampu menebus ijazah anaknya, tidak bisa menyediakan makan tiga kali sehari, bahkan tidak mampu membelikan seragam sekolah. Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk pelaksanaan amanat Pasal 34 UUD 1945 bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,” ujarnya.
Gus Ipul mengatakan, setelah satu tahun berjalan, program Sekolah Rakyat menunjukkan perkembangan positif. Selain mengalami peningkatan kemampuan akademik, para siswa dinilai semakin percaya diri, berkembang secara mental, serta memperoleh pembinaan karakter dan keterampilan.
Ia menegaskan Sekolah Rakyat tidak menerapkan seleksi akademik. Seluruh siswa diterima berdasarkan kriteria sosial, kemudian didampingi untuk mengembangkan potensi sesuai bakat dan minat masing-masing, termasuk bagi penyandang disabilitas.
“Semua dilayani sesuai minat dan bakatnya. Yang dikuatkan adalah talenta dan keunikan setiap anak agar mereka memiliki bekal menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan terampil,” katanya.
Gus Ipul juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam pengembangan program tersebut. Menurutnya, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar Sekolah Rakyat dapat menjangkau lebih banyak anak dari keluarga miskin. (jar)






