Bandara Sultan Hasanuddin Perkuat Kolaborasi Lingkungan Dengan Tanam 70 Ribu Bibit Mangrove 

Oplus_131072

RADARMAKASSAR.co.id – Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terus memperkuat upaya  terhadap pelestarian lingkungan hidup dengan melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.  

Salah satu bentuk nyata kolaborasi tersebut melalui momen Kemerdekaan RI Ke-81 dengan melalikan penanaman dan pengembangan kawasan mangrove di wilayah sekitar bandara, Kabupaten Maros.

CEO Regional V PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), Handy Heryudhitiawan menilai, sinergi antara kepentingan operasional bandara dan kepentingan lingkungan harus berjalan secara beriringan. 

“Dari perspektif kami melihat adalah kolaborasi. Jadi sebenarnya kepentingan dari bandara, kemudian kepentingan dari lingkungan, ini bisa dijalankan bareng, kerja sama. Jadi enggak masing-masing,” ujar, Kamis (20/8/2026). 

Menurut Handy, dengan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lingkungan sekitar merupakan hal yang penting bagi pengelola bandara. Terlebih, Bandara Sultan Hasanuddin memiliki aktivitas penerbangan yang cukup tinggi dengan jumlah penumpang mencapai puluhan ribu orang setiap harinya.

“Bandara Sultan Hasanuddin saat ini melayani sekitar 28.000 sampai 30.000, bahkan pada masa puncaknya pernah 41.000 penumpang dalam satu hari. Setahun bisa 9,5 juta, bahkan ditargetkan akan terus lebih tinggi lagi,” ungkapnya.

Tingginya aktivitas dan jumlah pengguna jasa bandara tersebut, pengelola menyadari pentingnya membangun hubungan kuat dengan masyarakat dan lingkungan di sekitar kawasan bandara.

Ia mengakui, keterlibatan pemerintah daerah, kepala desa hingga camat menjadi dukungan penting bagi pengelola bandara dalam menjalankan berbagai program lingkungan hidup. 

“Ini menjadikan kami selaku pengelola bandara merasa, wah, ada support-nya. Ada yang bisa diajak kerja samanya,” katanya.

Tanam 70 Ribu Bibit Mangrove 

Dalam program penghijauan, Jumlah bibit yang ditargetkan ditanam secara keseluruhan, sekitar 60.000 bibit berasal dari pihak bandara, sementara sekitar 10.000 bibit lainnya berasal dari regional.

“Secara total kurang lebih sekitar 60.000 dari bandara dan 10.000-nya dari regional. Kurang lebih sekitar ada 70.000 bibit mangrove yang ada saat ini,” jelasnya.

Ia menegaskan, program tersebut tidak akan berhenti pada penanaman 70.000 bibit mangrove. Program penghijauan akan terus  berkesinambungan lanataran manfaat mangrove dinilai sangat besar, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.

“Saya rasa juga enggak akan sampai di sini saja. Ini terus berkesinambungan karena tadi juga ngobrol-ngobrol dengan tim bahwa sebenarnya manfaatnya banyak banget,” ujarnya.

Menurutnya, manfaat keberadaan kawasan mangrove tidak hanya dirasakan oleh pengelola. Juga dirasakan oleh Masyarakat sekitar. 

“Pemanfaatan ekonomi, pemanfaatan lingkungan sekitar ini juga bisa terbukti nyata,” tambahnya.

Berpotensi Jadi Destinasi Ekowisata

Selain berfungsi sebagai kawasan pelindung pesisir laut, kawasan mangrove tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis ekologi. 

“Dari hasil-hasil yang ada, yang saya juga pernah kunjungi bersama, sebenarnya ada yang bisa kita kerjakan secara langsung. Misalnya terkait dengan pemanfaatan ekologi di sini sebagai pariwisata,” katanya.

“Ini juga hal yang bisa kita dorong nanti ke depan. Komitmen dari perusahaan juga terkait dengan lingkungan itu cukup tinggi,” ujarnya.

10 Hektare Siap Ditanami

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan, pihak pengelola bandara menjelaskan bahwa kawasan yang sebelumnya disebut akan ditanami sekitar lima hektare, kini terdapat sekitar 10 hektare lahan yang siap untuk dikembangkan.

“Kalau yang ditanam tadi sekitar lima hektare, yang tersedia ya?” tanya wartawan.

Pendamping kemudian menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 10 hektare lahan yang siap.

“Kalau sekarang ini sekitar 10 hektare yang siap,” jawabnya.

Pihak pengelola bandara pun memastikan kebutuhan bibit mangrove akan terus disuplai sehingga seluruh kawasan yang tersedia dapat ditanami secara bertahap.

“10 hektare, oke. 10 hektare ya, dan bibitnya juga nanti akan terus disuplai. Nanti akan kita tanam semua,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maros, Andi Irfan Paharuddin menyebutkan pihaknya akan terus berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan Bandara Sultan Hasanuddin terkait program Lingkungan Hidup. 

“Kita beruntung Bandara terletak di Maros, Pemerintah Kabupaten Maros akan terus mendukung program-progam yang berdampak pada masyarakat khususnya di wilayah pesisir,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *