Menteri UMKM Tekankan Perubahan Mindset, Kampus Harus Jadi Motor Pencetak Pengusaha

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman

Makassar, Radarmakassar.id — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat, khususnya generasi muda dan mahasiswa, untuk mendorong lahirnya lebih banyak pengusaha di Indonesia.

Hal itu disampaikan Maman saat membuka Bursa Wirausaha Unggulan Sulawesi Selatan 2026 di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, Makassar, Selasa (15/9).

Menurut Maman, persoalan pengangguran di Indonesia tidak cukup hanya dilihat dari sisi pemerintah maupun perguruan tinggi. Ia menilai, perubahan mindset masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pertumbuhan kewirausahaan.

“Yang salah itu mindset pola pikir kita,” kata Maman.

Ia mengungkapkan, selama ini pilihan menjadi pengusaha masih kerap dianggap sebagai pilihan terakhir karena dinilai penuh ketidakpastian. Sebaliknya, banyak keluarga justru mendorong anak-anaknya memilih pekerjaan yang dianggap lebih aman, seperti menjadi aparatur pemerintah, polisi, tentara, pegawai swasta maupun profesi lainnya.

Padahal, menurutnya, negara-negara berkembang dan maju umumnya memiliki rasio kewirausahaan di atas 5 persen. Sementara Indonesia saat ini baru berada di kisaran 3,2 persen.

“Semakin tinggi rasio kewirausahaan, berarti pengusahanya semakin banyak. Artinya semakin bagus ekonomi dan kemajuan sebuah negara atau daerah tersebut,” ujarnya.

Maman menilai, peningkatan jumlah pengusaha harus menjadi perhatian bersama karena keberadaan pengusaha memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja.

Ia memberi gambaran, apabila 1.000 pengusaha mampu berkembang dan masing-masing mempekerjakan beberapa orang, maka akan tercipta ribuan lapangan pekerjaan baru.

“Kalau tanya ke saya, salah satu solusi untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi sebuah negara adalah dengan mendorong atau menghasilkan pengusaha-pengusaha yang kuat dan tangguh di tanah air kita,” tegasnya.

Karena itu, Maman mendorong perguruan tinggi tidak hanya berorientasi menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat lahirnya pengusaha baru.

Ia secara khusus berharap Unhas dapat menjadi salah satu pionir dan motor penggerak dalam mencetak pengusaha-pengusaha baru dari Sulawesi Selatan.

“Besar sekali harapan saya bahwa sivitas akademika Universitas Hasanuddin bisa menjadi salah satu pionir, bisa menjadi salah satu motor yang menghasilkan semakin banyak lagi pengusaha-pengusaha hebat dari Sulawesi Selatan,” katanya.

Maman menyebut Sulawesi Selatan memiliki banyak saudagar dan pengusaha besar yang telah berkiprah di berbagai daerah di Indonesia. Potensi tersebut, menurutnya, harus terus ditularkan kepada generasi muda.

Di sisi lain, ia menegaskan pemerintah tetap memiliki tanggung jawab dalam mengatasi persoalan pengangguran. Kementerian UMKM bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan terus mendorong masuknya investasi guna meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan peningkatan jumlah dan kualitas pengusaha nasional.

“Semakin banyak pengusaha itu, berarti penyerapan tenaga kerjanya juga semakin banyak,” ujarnya.

Bursa Wirausaha Bukan Sekadar Seremonial

Bursa Wirausaha Unggulan Sulawesi Selatan merupakan kolaborasi Kementerian UMKM dengan Unhas yang didukung pemerintah provinsi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, asosiasi, dan komunitas.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik, menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial.

Menurut Riza, Bursa Wirausaha Unggulan merupakan bagian dari rangkaian inkubasi dan pendampingan usaha yang dilakukan secara sistematis sebelum pelaku usaha dilepas ke pasar.

“Bursa Wirausaha Unggulan ini bukanlah sekadar acara seremonial. Bursa Wirausaha Unggulan adalah rangkaian dari upaya-upaya inkubasi, pendampingan yang dilakukan secara sistematik,” jelasnya.

Ia mengatakan, peserta mendapatkan penguatan untuk mengakses perizinan, pembiayaan, pemasaran hingga inovasi.

Di Sulsel, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 1.000 pelaku UMKM, calon pengusaha, dan pengusaha pemula. Pemerintah juga menggandeng tujuh kementerian/lembaga, 14 lembaga mitra, serta lima perguruan tinggi.

Riza menjelaskan, proses inkubasi mencakup pengembangan usaha berbasis solusi teknologi dan komoditas. Sebanyak 30 lembaga inkubator dilibatkan dengan sekitar 200 tenan.

Sejumlah inovasi yang dikembangkan di antaranya Smart Aquaculture System, seafood e-commerce, edutech platform, hingga hologrammatic visual solutions.

Selain itu, dilakukan pula hilirisasi berbagai komoditas unggulan Sulsel, seperti rumput laut, kemiri, sagu, dan pinang.

Delapan tenan yang telah melewati proses inkubasi juga dijadwalkan melakukan pitching dengan pelaku usaha besar dan lembaga pembiayaan.

Riza menambahkan, inkubasi pembiayaan juga menjadi bagian penting agar pelaku UMKM tidak sekadar memperoleh modal, tetapi mampu mengelolanya secara sehat.

“Jangan sampai modalnya diberikan justru akhirnya mereka enggak bisa mengelola usahanya, enggak bisa mengelola keuangannya,” ujarnya.

Unhas Siapkan Ekosistem Wirausaha

Wakil Rektor V Unhas, Prof. Dr. Amir Ilyas, mengatakan kampus kini didorong tidak hanya menghasilkan lulusan dan publikasi, tetapi juga memastikan inovasi hasil penelitian dapat dikomersialisasikan.

Ia mengakui salah satu tantangan perguruan tinggi adalah banyaknya hasil penelitian yang berhenti pada tahap prototipe dan tidak berlanjut menjadi produk yang masuk ke pasar.

“Bukan lagi melahirkan inovasi, melahirkan temuan-temuan yang hanya prototipe kemudian tidak dilanjutkan ke pasar,” katanya.

Karena itu, Unhas mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, lembaga pembiayaan, komunitas, dan pelaku usaha.

Unhas juga tengah menyiapkan pengembangan Maritime Science Techno Park sebagai bagian dari ekosistem pengembangan produk unggulan.

Amir berharap kolaborasi tersebut mampu membantu wirausaha muda dan UMKM Sulsel naik kelas, berbasis inovasi, memiliki akses pasar yang lebih luas, serta mampu bersaing di tingkat nasional hingga global.

Bursa Wirausaha Unggulan Sulsel sendiri diisi dengan lokakarya, klinik produk, layanan, dan inkubasi usaha dengan sasaran sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari mahasiswa calon wirausaha dan pelaku UMKM yang telah mengikuti proses inkubasi. (Jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *