RADARMAKASSAR,GOWA–Proyek bantuan pemerintah pusat program revitalisasi di SMP IT Yuhana Four Dalle di Desa Tana Karaeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, menuai sorotan tajam dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PERAK Gowa. Proyek di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini menggunakan anggaran APBN Tahun 2026 sebesar Rp. 754.706.000.
Ketua LSM PERAK Gowa, Muhammad Taufan Yunus, mendesak pihak Kepala Sekolah selaku penanggung jawab dan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) sebagai pelaksana kerja untuk bersikap transparan dan akuntabel dalam merealisasikan anggaran yang cukup fantastis tersebut.
Menurut Taufan, dengan nominal lebih dari 750 juta rupiah, pengerjaan proyek swakelola ini seharusnya tidak hanya berfokus pada perbaikan atau penggantian atap semata, melainkan menyentuh seluruh komponen kelayakan kelas termasuk perbaikan lantai, pengecatan, hingga renovasi dinding struktural. Hal ini mengingat desain awal bangunan ruang kelas sekolah tersebut yang terbuka menyerupai deretan kios.
“Kami meminta Kepala Sekolah dan Panitia Pelaksana (P2SP) tidak main-main dengan anggaran negara ini. Uang sebesar Rp754 juta itu dialokasikan untuk revitalisasi total agar siswa mendapatkan fasilitas belajar yang layak dan aman, bukan sekadar ganti atap lalu selesai. Komponen dinding, lantai, dan pengecatan juga harus dikerjakan secara maksimal sesuai petunjuk teknis,” ujar Muhammad Taufan Yunus saat memberikan keterangan.
Lebih lanjut, Taufan menegaskan bahwa LSM PERAK Gowa akan terus mengawal jalannya proyek yang memiliki target pengerjaan 120 hari kalender tersebut demi mengantisipasi adanya potensi penyimpangan atau pengurangan mutu material di lapangan.
“Kami akan memantau ketat proyek ini hingga selesai. Transparansi dokumen Gambar Rencana Kerja (DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) di lokasi proyek harus dibuka agar masyarakat dan wali murid bisa ikut mengawasi bersama,” tutup Taufan.
Sementara iru, Kepala Bidang (Kabid) SMP pada Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa, H Zainal Timung yang di komfirmasi mengaku pihaknya hanya sebatas pengawasan saja. Sementara yang mengerjakan dan bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan proyek tersebut adalah kepala sekolah penerima revit masing-masing.
“Kita di dinas hanya sebatas monitoring dan pengawasan saja. Karena proyek ini sifatnya swakelolah maka yang bertanggung jawab penuh adalah kepsek,” tegas H Zainal.
Terpisah, Kepsek SMP Yohanna Four Dalle Kecamatan Manuju, Nursinah yang dihubungi mengaku pihaknya mengerjakan proyek revitalisasi ini sesuai dengan perencanaan, desain dan RAB yang ada. (An).






