RadarMakassar.id – Sulampua Investment and Business Forum (SiBF) 2026 mencatat komitmen ekspor senilai Rp450 miliar yang melibatkan 31 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan 44 pembeli dari 20 negara.
Forum yang berlangsung di Hotel Claro Makassar, 28–29 Oktober 2026, tersebut juga mempromosikan 43 proyek investasi potensial di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
Capaian tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha daerah untuk memperluas akses pasar internasional sekaligus memperkuat posisi komoditas unggulan Sulampua dalam rantai perdagangan global.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan komitmen ekspor tersebut berasal dari empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum, komitmen ekspor terdiri atas dua kelompok komoditas. Rempah-rempah serta produk makanan dan minuman mencatat nilai Rp191,21 miliar, sedangkan komoditas perikanan, perkebunan, dan kopi mencapai Rp259,51 miliar.
Selain mendorong perdagangan, SiBF 2026 menjadi wadah promosi proyek investasi potensial kepada calon investor domestik maupun internasional.
“Sebanyak 98 pertemuan bisnis secara langsung telah dijadwalkan dengan lebih dari 30 calon investor potensial, baik domestik maupun internasional,” ungkap Rizki, Rabu (28/10/2026).
Pertemuan bisnis tersebut dirancang untuk mempertemukan pemilik proyek dengan investor, sekaligus membuka peluang pembiayaan dan kerja sama dalam pengembangan berbagai sektor ekonomi di kawasan Sulampua.
Rizki menjelaskan, SiBF 2026 merupakan pengembangan dari Sulawesi Investment Forum (SIF) dan Anging Mammiri Business Fair (AMBF) yang sebelumnya berfokus di Sulawesi Selatan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, cakupan forum diperluas ke kawasan Sulampua untuk memperkuat promosi investasi, perdagangan, dan kemitraan bisnis lintas daerah maupun internasional.
Mengusung tema “Advancing Sulampua’s Potential: From Regional Strengths to Global Value Chains”, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 350 peserta dari unsur pemerintah, investor, lembaga pembiayaan, pelaku usaha, dan mitra perdagangan.
Investasi Produktif dan Ekspor Jadi Perhatian
Rizki menilai penguatan investasi dan ekspor menjadi semakin penting di tengah dinamika perekonomian kawasan Sulampua.
Pertumbuhan ekonomi kawasan tercatat sebesar 4,36%, sedangkan pertumbuhan investasi meningkat dari 6,7% menjadi 8,1%. Namun, pertumbuhan ekspor mengalami perlambatan dari 8,3% menjadi 4,3%.
“Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan investasi produktif, sekaligus perluasan akses pasar ekspor agar pertumbuhan ekonomi kawasan lebih berkelanjutan,”ujarnya.
Untuk mendorong peningkatan investasi, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah memperkuat fasilitasi melalui pemetaan proyek potensial, penyiapan proposal investasi, dan pengembangan skema pembiayaan.
Upaya tersebut melibatkan sejumlah mitra strategis, termasuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kementerian Keuangan, serta PT Sarana Multi Infrastruktur.
Di sektor perdagangan, perluasan akses pasar UMKM juga dilakukan melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern. Hingga penyelenggaraan forum, tujuh UMKM telah memperoleh perluasan akses pasar melalui kerja sama tersebut.
Rizki menegaskan, keberhasilan SiBF tidak cukup diukur dari nilai komitmen investasi maupun transaksi perdagangan yang tercatat selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, tindak lanjut terhadap setiap kesepakatan menjadi faktor penting agar peluang yang telah terbuka dapat diwujudkan menjadi realisasi investasi dan ekspor yang berkelanjutan.
Hilirisasi Komoditas Unggulan Jadi Peluang
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba, mengatakan Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam, industri, dan konektivitas kawasan.
Menurutnya, pengembangan investasi perlu diarahkan pada hilirisasi komoditas unggulan agar produk daerah tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar internasional.
Ia memaparkan, Sulawesi Selatan merupakan produsen rumput laut terbesar secara nasional dengan produksi mencapai 4,01 juta ton. Produksi perikanan tangkap juga mencapai 512.484 ton, menempatkan provinsi ini pada posisi ketiga nasional.
Sementara itu, produksi kakao tercatat sebesar 79,74 ribu ton, kelapa sawit mencapai 105,9 ribu ton pada 2025, dan kelapa sebesar 63,72 ribu ton.
Besarnya potensi tersebut dinilai membuka peluang investasi di sektor industri pengolahan, penguatan rantai pasok, serta pengembangan produk turunan komoditas unggulan.
Since berharap SiBF 2026 dapat menjadi jembatan yang menghubungkan potensi ekonomi daerah dengan kebutuhan pasar global.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga mendorong pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk, memenuhi standardisasi, memperkuat kapasitas produksi, serta menjaga kesinambungan pasokan agar mampu memenuhi permintaan pembeli internasional.
Melalui sinergi pemerintah, Bank Indonesia, investor, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha, SiBF 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan komitmen bisnis, tetapi juga mendorong realisasi investasi, memperluas pasar ekspor UMKM, dan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan.
Dengan demikian, potensi ekonomi Sulampua diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat daya saing kawasan dalam rantai nilai global. (*)






