Makassar, Radarmakassar.id- Kementerian Kebudayaan melalui Festival Musik TradisiIndonesia (FMTI) Makassar 2026 menghadirkan Re’rasa’ sebagai ruang untuk membacakembali warisan musik tradisi, membuka peluang inovasi, FMTI Makassar 2026 Hadirkan Re’rasa’, Buka Ruang Inovasi dan Keberagaman Musik Tradisi memperluas ruang bagikeberagaman pelaku dan praktik musik tradisi. Berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 diBenteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, festival ini dibuka langsung oleh MenteriKebudayaan RI, Fadli Zon.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memastikan bahwa melalui FMTI,Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk menjadikan musik tradisi sebagai bagianpenting dari upaya pemajuan kebudayaan.
“Melalui penyelenggaraan FMTI ini, kamimemastikan bahwa musik tradisi tidak hanya menjadi pengisi panggung, tapi juga menjadibagian penting dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan kegiatan kebudayaan,”ungkap Menteri Fadli Zon.
Lebih lanjut, Menbud Fadli juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan saat initengah fokus untuk mengedepankan lima ekosistem seni Indonesia, antara lain film, musik,seni pertunjukan, sastra, dan seni rupa melalui program Manajemen Talenta Nasional.
Mengangkat tema Re’rasa’, FMTI Makassar 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukanmusik, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali peran tradisi sebagai sumberkreativitas. Istilah Re’rasa’ merujuk pada unsur musik tradisi Makassar, antara lain dalamstruktur Tunrung Bali Sumanga’ dan seni pencak silat Pamanca’.
Dalam konteks festival,gagasan ini dimaknai sebagai ruang untuk berefleksi, membaca kembali warisan, danmenentukan langkah bagi masa depan musik tradisi.
FMTI Makassar 2026 menghadirkan sembilan kelompok musik dari berbagai wilayah diSulawesi Selatan, yaitu GD Labs dari Wajo, Malaka feat. Liwa’ Art dari Sidrap, Sisvara dari Makassar, Pa Collective dan Sagala dari Takalar, Uni Lampaq dari Bone, Jalarambang dariBantaeng, Authentic dari Gowa, serta Suku Selat dari Selayar.
Sebagai bagian dari rangkaian festival, FMTI Makassar 2026 juga memberikan penghargaankepada para pelaku yang berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan ekosistemmusik tradisi. Penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yakni Penjaga Musik Tradisi Nusantara kepada Abdul Latief, Penggerak Ekosistem Musik Tradisi kepada Arfan Rahim, danPenggerak Tata Kelola FMTI kepada Muhammad Iqbal.
Apresiasi ini menjadi bentukpengakuan terhadap peran para praktisi dan penggerak yang turut menjaga keberlangsunganmusik tradisi, termasuk mereka yang kontribusinya belum banyak mendapat perhatian.
Penyelenggaraan FMTI Makassar 2026 merupakan bagian dari rangkaian Festival Musik Tradisi Indonesia tahun 2026 yang didukung program Dana Indonesia Raya di sejumlah daerah, yaitu Bogor, Wonosobo, Maumere, Makassar, Kuningan, Aceh, dan Mataram.Pelibatan komunitas musik tradisi lokal menjadi bagian penting dari penyelenggaraan festival,termasuk dalam pengembangan program dan penguatan kapasitas pengelolaan kegiatan.
Turut hadir dalam kesempatan ini mendampingi Menteri Kebudayaan, yakni Wakil MenteriKebudayaa, Giring Ganesha Djumaryo; Wakil Walikota Makassar, Aliyah Mustika Ilham;Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, AhmadMahendra; Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Protokoler dan Rumah Tangga,Rachmanda Primayudha; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; Sekretaris DirektoratJenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Judi Wahjudin;Direktur Pengembangan Budaya Digital, Insan Abdirrohman; Direktur Film, Musik, dan Seni,Irini Dewi Wanti; Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan,Syukur Asih Suprojo; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulawesi Selatan,Sinatriyo Danuhadiningrat.
Menutup sambutannya, Menbud Fadli Zon sampaikan komitmen Kementerian Kebudayaandalam memperkuat ekosistem musik tradisi di Indonesia.
“Melalui Festival Musik TradisiIndonesia Makassar 2026, kita jadikan sebagai momentum untuk memperkuat ekosistemmusik tradisi, sekaligus memperluas ruang kreativitas, termasuk juga bagaimana kita dapatmemanfaatkan aset-aset budaya seperti di Benteng Rotterdam ini, serta meneguhkankomitmen kita bersama dalam pemajuan kebudayaan,” tegas Menbud Fadli Zon. (*)






