Radarmakassar.id – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof Nasaruddin Umar, memperkuat peran Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan perdaiamain di Gaza, Palestina.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menjadi inisiator dalam merumuskan strategi kebijakan bagi Pemerintah Indonesia dan mitra internasional sebagai rekomendasi untuk memperkuat diplomasi perdamaian dunia Islam.
Rekonendasi konkret itu dibahas melalui seminar internasional bertajuk “Towards a Two-State Solution: Peran Kunci Presiden Prabowo Subianto dalam Mewujudkan Perdamaian di Gaza” di Auditorium UIN Alauddin Makassar pada Senin (17/11). Selain Menteri Agama, seminar juga dihadiri sejumlah tokoh penting sebagai pembicara, di antaranya Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta. Turut hadir narasumber internasional Prof. Robert W. Hefner dari Boston University, Amerika Serikat dan Jurnalis Palestina Revda Selver Iseric.
Menteri Agama Prof Nasaruddin mengatakan, langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas pernyataan-pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat berpidato di Newyork, Amerika Serikat dan Mesir tentang solusi perdamaian di Gaza yang saat ini tengah jadi perbincagan negara – negara luar.
“UIN Alauddin berkepentingan untuk menindaklanjuti atau mengartikulasikan pernyataan – pernyataan Presiden Prabowo bahwa two state solution itu menyentak banyak negara yang sekarang ini langsung redam. Kita juga menpersiapkan bagaimana pak Prabowo berbicara lebih lanjut, apa yang kita lakukan pasca konflik, solusinya seperti apa,” ujar Menag saat konfrensi pers di Auditorium Kampus UIN Alauddin.
Solusi itu kata Menag, penting karena masih banyak problem apalagi Presiden Prabowo yang paling cermat memberikan solusi kongkrit dengan kesediaannya memberikan bantuan pasukan perdamaian di Gaza bahkan sampai 20 ribu orang jika diperkukan.
Menurut Menag, jika yang berkonflik di suruh damai tanpa ada moderatornya atau yang menjadi founder maka tidak mungkin berjalan dengan baik, maka itu perlu ada yang mengantar di situ, (polisinya) perlu terlibat di situ. Dalam artian negara Indonesia melalui Presiden Prabowo menjadi salah satu penengah dengan memberikan solusi kebijakan diplomasi terhadap negara berkonflik.
Permusan kebijakan akan melalui empat tahap seminar. Yang pertama dan sedang berlangsung saat ini adalah di UIN Alauddin Makassar, kemudian seminar kedua akan digelar di UIN Sumatera Utara dengan konsep untuk melihat bagaimana negara – negara Asia Tenggara memandang pernyataan yang di sampaikan Presiden Prabowo.
Selanjutnya juga akan digelar di UIN Jawa Timur, kemudian terakhir di UIN Jakarta. “Yang mengedit semua itu (hasil rekomendasi seminar) adalah UIN Jakarta,” ujar Menag.
“Diharapkan dengan pertemuan pertemuan ini InsyaAllah akan semakin diperkaya kelompok – kelompok yang berkpentingan untuk mengetahui posisi Indonesia itu seperti apa, tentu semua ini adalah di bawah Koordinasi Kementerian Luar Negeri, kita hanya memberikan masukan secara akademik berdasarkan berbagai macam perspektif. Kita serahkan pemikiran pemikian ini ke Menteri Luar Negeri sebagai bahan masukan,” tambahnya.
Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta menyampaikan bahwa dukungan Indonesia kepada Palestina ini adalah dukungan yang dasarnya datang dari amanat konstitusi. Selain itu juga sebagai bentuk kesadaran bangsa Indonesia bahwa ini adalah kewajiban agama, disamping itu yang lebih penting adalah kewajiban kemanusiaan.
“Tapi secara khusus ini adalah hutang sejarah yang belum lunas sejak Presiden Soekarno dulu mengadakan Konferensi Asia Afrika yang datang dengan narasi tunggal melawan imperialisme dan mendorong mendukung proses kemerdekaan semua bangsa-bangsa yang terlibat waktu itu dan sampai sekarang tinggal satu negara yang belum merdeka yang merupakan utang sejarah yang harus kita cicil yaitu Palestina,” katanya.
Ia menyebut, sekarang ini bantuan dari Indonesia ke Gaza, Palestina umumnya lebih banyak dukungan politik terutama di berbagai lembaga perundingan, bantuan moral dan bantuan kemanusiaan.
“Khusus untuk bantuan kemanusiaan ini bulan September lalu Alhamdulillah pemerintah sudah mengirimkan lagi bantuan sebesar 12 juta dolar untuk membangun dapur umum di Gaza dan sebelumnya sudah ada sekitar 24 juta dollar sudah direalisasi juga teman-teman dari NJO. Seluruhnya terlibat dan baru-baru ini kita membawa air drop melalui udara sekitar 1.200 ton makanan,” ujar Anis.
Saat ini lanjut Anis, Presiden Prabowo berinisiatif mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza, hanya saja masih belum ada keputusannya sampai sekarang dan masih dalam perdebatan.
“Sampai saat ini belum ada bentuknya disepakati secara utuh masih negosiasi tetapi prinsip dasarnya adalah bahwa kita siap mengirimkan pasukan atas kesepakatan bersama semua pihak yang terlibat,” tuturnya.
“Masalah Palestina sekarang sudah menjadi masalah kemanusiaan yang melibatkan hampir semua negara. Saya kira dalam konteks inilah presiden Prabowo hadir memberikan push, tekanan yang lebih kuat lagi dengan kesediaan mengirimkan pasukan perdamaian,” tambah Anis.
Sementara itu Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis mengaku berbangga sebagai tuan rumah dan penyelenggara pertama dari empat seri seminar yang di gagas oleh Menteri Agama.
“UIN Aalauddin dipercaya yang pertama melaksanakannya karena dianggap bahwa selalu siap dan topiknya, sub temanyalah di UIN Alauddin yang paling fundamental karena langsung menunjuk peran kunci bapak Presiden untuk mengkampanyekan dan memastikan bahwa perdamaian di Gaza bisa di wujudkan dan itu momentumnya saat beliau menyampaikan pidato di PBB,” katanya. (jar)






