Ragam  

Eksistensi Kue Biji Nangka Kudapan Khas Sulsel

Ilustrasi kue biji nangka

Radarmakassar.id – Di tengah gempuran kue-kue modern, kue biji nangka tetap menemukan ruangnya di hati masyarakat Sulawesi Selatan. Dari pasar tradisional hingga acara keluarga, keberadaannya menjadi bukti bahwa kuliner lokal ini masih lestari. 

Kudapan berbahan dasar kentang dengan cita rasa manis dan gurih ini terus dipertahankan oleh masyarakat, meski tren makanan kekinian semakin marak.

Nama “biji nangka” muncul karena bentuk kuenya yang lonjong menyerupai biji buah nangka. Meskipun begitu, kue ini sebenarnya tidak mengandung buah nangka sama sekali.

Pembuat kue biji nangka, Suryani Dg. Baji, menjelaskan bahwa penamaan itu sudah dikenal sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.

“Disebut kue biji nangka karena bentuk kuenya itu memang mirip sama biji nangka. Dari dulu orang-orang di sini sudah menyebutnya begitu,” ujarnya pada 29 November 2025.

Namun, kue biji nangka tetap menawarkan kelezatan yang khas, dengan cita rasa manis, gurih dan tekstur yang lembut serta legit.

Kue ini dapat kita temukan pada acara pernikahan atau khitanan sebagai simbol kehidupan rumah tangga yang diharapkan berjalan manis dan harmonis. 

Sebagai kudapan tradisional Sulawesi Selatan, kue biji nangka dikenal menggunakan bahan sederhana, tetapi proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan.

Salah satu pembuat kue biji nangka, Haerani Dg. Calla mengaku sudah lebih dari 10 tahun bekerja sebagai pembuat kue biji nangka. 

“Sudah Lama, Kira-kira sejak tahun 2015 saya mulai membuat. Pertamakali saya membuatnya itu pas ada acara perkawinan di rumah sepupu, saya lihat dan saya juga pengen belajar. Alhamdulillah sekarang sudah pintar.” ujarnya pada 29 November 2025. 

Dg. Calla kemudian menjelaskan proses pembuatan kue biji nangka, mulai dari pengukusan bahan hingga tahap pencelupan ke dalam air gula yang memberi rasa manis khas pada kue tersebut.

“Pertama, kentangnya dikukus dulu bersama ubi, lalu dihaluskan. Setelah halus, dicampur dengan gula, mentega, dan santan,” tuturnya.

Setelah semua tercampur rata, adonan dimasak kembali hingga kalis di atas teflon. Setelah dingin, adonan kemudian dibentuk lonjong menyerupai biji buah nangka.

Selanjutnya, adonan yang sudah dibentuk dicelupkan ke dalam kuning telur, lalu dimasak di air gula pasir. Dimasak hingga mendidih dan kuenya tampak mengkilap, barulah kue biji nangka diangkat.

Kue biji nangka termasuk jenis kue tradisional basah yang tidak bisa bertahan lama, sehingga kurang cocok dijadikan oleh-oleh khas daerah.

Seorang guru tata boga, Ahmad Darwis, S.Pd, mengatakan bahwa salah satu tantangan utama kue biji nangka terletak pada daya tahannya.

“Salah satu kelemahannya adalah kue ini tidak tahan lama karena termasuk kue basah. Makanya perlu ada inovasi, bagaimana caranya supaya bisa bertahan beberapa hari,” ujarnya pada 8 Desember 2025.

Ia menambahkan bahwa inovasi tidak hanya pada bahan, tetapi juga bisa dilakukan melalui kemasan.

“Kalau kemasannya dibuat lebih bagus dan unik, itu bisa jadi daya tarik pertama bagi pembeli. Kita juga bisa menambah beberapa varian rasa. Ini hal yang harus kita pikirkan ke depannya,” tambahnya. (Novita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *