HALMAHERABARAT, RADARMAKASSAR.co.id — Produksi sagu di Desa Tuada, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, mulai diarahkan menuju proses yang lebih bersih, higienis, dan bermutu melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Desa Binaan Universitas Khairun (UNKHAIR).
Kegiatan yang berlangsung pada Juli–Agustus 2026 di Rumah Produksi Sagu Desa Tuada ini didukung hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMDIKTISAINTEK) dan LPPM Universitas Khairun Tahun 2026.
Program tersebut berfokus pada penguatan desa mandiri pangan berbasis produksi sagu melalui penerapan standar clean dan higienis, peningkatan mutu, serta pengembangan nilai tambah produk.
Tim pelaksana dipimpin Prof. Dr. Hamidin Rasulu, STP., MP, Guru Besar Fakultas Pertanian UNKHAIR bidang Teknologi Hasil Pertanian, bersama Prof. Dr. Ir. Yusri Sapsuha, SPt., MSc, IPM bidang Nutrisi Ternak, Mila Fatmawati, SE., S.Pd., MSA bidang Agribisnis, dan Maiz Papilaya, SP., MSi dari STPK Banau Halmahera Barat. Tim bermitra dengan KUPS Sagu Tuada Akepulo yang diketuai Mahfud Muhammad serta UMKM Huda Ma Guci.
Salah satu persoalan utama yang ditangani adalah kebersihan dan higienitas proses produksi. Pengolahan sagu masyarakat masih menghadapi keterbatasan pada ketersediaan air bersih, kebersihan peralatan, lingkungan produksi, pengeringan, dan penyimpanan.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena air digunakan dalam pencucian, ekstraksi, maupun pembersihan peralatan dan dapat menjadi sumber kontaminasi apabila kualitasnya tidak memadai.
Sebagai solusi, tim UNKHAIR memperkenalkan teknologi filtrasi air berbasis membran nano filter untuk mendukung penyediaan air yang lebih bersih di rumah produksi.
Menurut Prof. Hamidin, teknologi pengolahan pangan harus berjalan seiring dengan penerapan kebersihan dan keamanan pangan.
“Sagu merupakan pangan lokal yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, potensi tersebut harus diikuti dengan perbaikan proses produksi. Air, peralatan, pekerja, lingkungan produksi, hingga proses pengeringan harus diperhatikan agar produk yang dihasilkan tidak hanya banyak, tetapi juga aman dan bermutu,” jelasnya.
Hamidin menambahkan bahwa penerapan clean and hygienic processing merupakan fondasi sebelum produk sagu dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Tahap selanjutnya dapat diarahkan pada standardisasi, pengemasan, legalitas, sertifikasi halal, dan pengembangan pasar.
Selain air, proses pengeringan juga mendapat perhatian. Pengeringan terbuka berisiko menyebabkan sagu terpapar debu, kotoran, serangga, dan kontaminan lingkungan.
Karena itu, tim memperkenalkan tirai plastik UV sebagai teknologi tepat guna untuk menciptakan lingkungan pengeringan yang lebih terlindungi dan terkontrol.
Pengembangan sagu juga diarahkan pada pemanfaatan hasil samping. Ampas sagu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan pakan setelah melalui pengolahan dan pengujian yang sesuai.
Prof. Dr. Ir. Yusri Sapsuha, yang memiliki kepakaran di bidang Nutrisi Ternak, menjelaskan dalam kegiatan sosialisasi program PKM Desa Binaan yang akan direncanakan pada tahun 2027 mendatang menyatakan bahwa pemanfaatan ampas sagu dapat mendukung pendekatan ekonomi sirkular di tingkat desa.
Menurutnya, ampas sagu berpotensi menjadi bahan pakan, tetapi harus memperhatikan kandungan nutrisi, keamanan, kualitas bahan, serta hasil pengujian laboratorium. Dengan demikian, produksi sagu dapat membentuk sistem yang saling terhubung: sagu menghasilkan pangan, sementara hasil sampingnya berpeluang dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk pakan ternak.
Dari perspektif agribisnis, Mila Fatmawati, SE., S.Pd., MSA menekankan bahwa peningkatan produksi harus diikuti penguatan usaha. Produk sagu perlu memiliki identitas, kualitas konsisten, kemasan menarik, legalitas, dan pasar yang jelas.
Terutama izin edar berupa Nomor PIRT baik bahan baku tepung sagu basah atau kering dan juga produk turunannya harus dimiliki oleh pelaku usaha UMKM.
Menurut Mila, penguatan agribisnis harus dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari bahan baku, proses produksi, mutu, biaya produksi, harga jual, kemasan, pemasaran hingga keuntungan usaha. Identitas “Sagu Tuada” juga dinilai dapat menjadi pembeda sekaligus menghubungkan produk dengan asal daerahnya.
Program Desa Binaan UNKHAIR tidak hanya memberikan peralatan, tetapi juga pelatihan dan pendampingan agar masyarakat mampu mengoperasikan serta memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan.
Maiz Papilaya, SP., MSi menekankan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari tersedianya peralatan, tetapi dari kemampuan masyarakat menguasai dan menerapkan teknologi tersebut.
Ketua KUPS Sagu Tuada Akepulo, Mahfud Muhammad, menyambut baik pendampingan tersebut.
Ia berharap produksi sagu Tuada menjadi lebih bersih, kualitasnya meningkat, dan memiliki nilai jual lebih tinggi sehingga mampu menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Program Desa Binaan UNKHAIR menjadi langkah awal untuk memperkuat pangan lokal berbasis potensi desa. Penerapan filtrasi air, perbaikan pengeringan, prinsip clean and hygienic, serta peningkatan kapasitas kelompok diarahkan untuk membangun sistem produksi sagu yang lebih baik.
Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan produk, pengemasan, legalitas usaha, PIRT, sertifikasi halal, dan penguatan pemasaran. Kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci keberlanjutan program.
Pada akhirnya, penguatan sagu Desa Tuada bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi membangun rantai nilai pangan lokal. Dari Desa Tuada, sagu mulai bergerak dari komoditas tradisional menuju pangan lokal yang lebih bersih, higienis, bernilai tambah, memiliki identitas, dan berpotensi berdaya saing. (*)






