RadarMakassar.id – Sulampua Investment & Business Forum (SIBF) 2026 berhasil mencatatkan potensi investasi sebesar Rp9,64 triliun dan komitmen ekspor senilai Rp818,5 miliar. Capaian ini memperkuat peluang Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) dalam menarik investasi serta memperluas akses perdagangan ke pasar global.
Forum yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah daerah se-Sulampua tersebut berlangsung di Hotel Claro Makassar, 28–29 Oktober 2026.
Mengusung tema “Advancing Sulampua’s Potential: From Regional Strengths to Global Value Chains”, SIBF 2026 menjadi wadah promosi proyek investasi, pengembangan usaha, serta penguatan kemitraan perdagangan antara pelaku usaha daerah dan mitra bisnis internasional.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 900 peserta, termasuk Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta yang mengikuti secara virtual, perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintah daerah se-Sulampua, Kantor Perwakilan BI se-Sulampua, perwakilan kedutaan besar, kamar dagang, investor, dan mitra bisnis dari dalam maupun luar negeri.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan SIBF 2026 merupakan pengembangan dari kegiatan tahunan Anging Mammiri Business Fair (AMBF) dan South Sulawesi Investment Forum (SSIF), yang sejak 2024 diselenggarakan melalui Forum PINISI SULTAN.
Pada penyelenggaraan tahun ini, SIBF menawarkan 43 proyek investasi potensial dari berbagai daerah di Sulampua. Forum tersebut juga memfasilitasi 98 pertemuan bisnis (one-on-one meeting) yang dijadwalkan melibatkan lebih dari 30 calon investor dari dalam dan luar negeri.
“Keberhasilan forum investasi dan perdagangan tidak cukup diukur dari besarnya komitmen yang berhasil dihimpun. Lebih dari itu, tindak lanjut berupa realisasi investasi dan transaksi perdagangan yang berkelanjutan menjadi indikator penting keberhasilan kegiatan tersebut,” kata Rizki.
Potensi Investasi Capai Rp9,64 Triliun
Dari sisi investasi, SIBF 2026 menghasilkan 17 Letter of Intent (LoI) dengan total potensi investasi mencapai Rp9,64 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan berbagai sektor unggulan di Sulampua. Namun, realisasi potensi tersebut membutuhkan kesiapan proyek, dukungan pembiayaan, kepastian usaha, serta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.
Untuk memperkuat tindak lanjut investasi, BI mengembangkan sejumlah strategi, termasuk pemetaan proyek potensial secara terintegrasi dan kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan serta PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
“Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung penyiapan proyek dan pengembangan skema pembiayaan, termasuk Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU),” terang Rizki.
Selain itu, kegiatan market sounding, business matching, dan kunjungan langsung ke lokasi investasi (investment site visit) turut dilakukan untuk mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor serta meningkatkan peluang realisasi investasi.
Komitmen Ekspor Naik Menjadi Rp818,5 Miliar
Di sektor perdagangan, SIBF 2026 mencatatkan komitmen ekspor sebesar Rp818,5 miliar. Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp228,1 miliar.
Komitmen ekspor itu berasal dari kemitraan 47 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) se-Sulampua dengan 44 pembeli (buyer) dari 20 negara.
Sulawesi Selatan memberikan kontribusi terbesar dengan nilai komitmen ekspor mencapai Rp740,6 miliar.
Selain mendorong ekspor, forum ini juga membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran di pasar domestik. Sebanyak tujuh UMKM Sulawesi Selatan berhasil memperluas akses pasar melalui kerja sama dengan jaringan ritel modern dalam negeri.
“Pencapaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi UMKM dalam rantai pasok dan memperluas akses terhadap pasar yang lebih kompetitif,” ujar Rizki.
Untuk mendukung langkah tersebut, BI turut mendorong kolaborasi dengan trading house dan jaringan ritel modern agar produk unggulan UMKM memiliki akses pemasaran yang lebih luas.
Hilirisasi dan Konektivitas Jadi Kunci
Dalam sambutan yang disampaikan melalui Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya hilirisasi komoditas unggulan guna meningkatkan nilai tambah produk dan daya saing ekonomi daerah.
Sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Namun, pengembangan sektor tersebut perlu didukung infrastruktur dan konektivitas yang memadai agar mampu menarik investasi, memperkuat rantai pasok, serta mendorong pemerataan ekonomi.
“Melalui SIBF 2026, pemerintah daerah mengajak investor dan mitra usaha untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur dan konektivitas melalui investasi yang berkelanjutan serta memberikan dampak luas bagi perekonomian daerah,” katanya.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menegaskan bahwa investasi dan perdagangan merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulampua yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
“Penguatan kedua sektor tersebut perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah, diversifikasi ekonomi, serta konektivitas antarwilayah untuk mengoptimalkan potensi unggulan daerah,” kata Filianingsih.
Dalam pelaksanaannya, SIBF 2026 mengedepankan prinsip Impactful, Inclusive, Integrated, dan Synergy atau 3I dan 1S. Prinsip tersebut menitikberatkan pada pencapaian hasil konkret, perluasan partisipasi pelaku usaha, keterpaduan program investasi dan perdagangan, serta penguatan kolaborasi antar-pemangku kepentingan.
Berbagai agenda turut meramaikan forum tersebut, mulai dari promosi proyek investasi dan produk unggulan UMKM, empat sesi diskusi (talkshow), business matching, hingga kunjungan ke lokasi investasi.
Melalui forum ini, Bank Indonesia berharap potensi unggulan Sulampua tidak hanya berhenti pada promosi dan komitmen bisnis, tetapi dapat diwujudkan menjadi investasi produktif, peningkatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan dukungan pemerintah, investor, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha, Sulampua diharapkan semakin mampu menghubungkan kekuatan ekonomi regional dengan rantai nilai global. (*)






