Strategi BRI Perkuat Penyaluran KUR di Pelosok dan Tekan Kredit Macet

RCEO (Regional Chief Executive Officer) BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo.

Makassar, Radarmakassar.id– RCEO (Regional Chief Executive Officer) BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo mengungkapkan strategi perusahaan dalam mengoptimalkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sekaligus menjaga kualitas kredit di wilayah kerja mereka.

Dalam penjelasannya, BRI fokus pada perluasan akses di daerah terpencil dan edukasi ketat kepada nasabah guna menghindari risiko kredit bermasalah.

Argo menjelaskan bahwa terkait agunan, BRI mengikuti ketentuan perbankan yang berlaku. Untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, nasabah tidak diwajibkan memberikan jaminan. Sedangkan untuk pinjaman di atas nominal tersebut, penggunaan agunan bergantung pada penilaian bank dan pertimbangan pemutus kredit.

Tantangan terbesar dalam penyaluran KUR di wilayah Indonesia Timur adalah kondisi geografis dan rendahnya kesadaran transaksi masyarakat yang sering kali berdampak pada catatan SLIK OJK. Untuk mengatasi keterbatasan kantor konvensional di daerah kepulauan, BRI mengandalkan Agen BRILink yang berperan sebagai perpanjangan tangan bank untuk melayani akses KUR dan penyetoran nasabah di lokasi yang sulit dijangkau.

Kemudian, Petugas On The Spot (OTS). Petugas bank (mantri) secara periodik melakukan kunjungan langsung ke pulau-pulau terpencil untuk memproses kredit.

“Banyak nasabah kami yang akses KUR di satu pulau yang jaraknya 8 jam perjalanan, meskipun kami tidak punya kantor di sana. Kami atasi dengan agen BRILink dan petugas yang turun langsung (OTS) ke masyarakat,” ujar Argo dalam acara Media Gathering, pada Jumat (8/5).

Mengenai risiko kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), Argo menyatakan bahwa angka NPL saat ini masih berada di kisaran 2%, atau masih di bawah ambang batas aman OJK sebesar 3%.

Untuk menekan kredit bermasalah, BRI melakukan berbagai upaya dan strategi dengan memastikan petugas lapangan (mantri) dan pemutus kredit memiliki kemampuan yang baik dalam memilih calon debitur yang sehat. Memberikan pinjaman sesuai kebutuhan riil nasabah agar beban angsuran tetap terkendali. Menekankan penggunaan dana kredit hanya untuk kegiatan produktif dan mendorong nasabah untuk melakukan transaksi melalui rekening BRI guna menjaga transparansi keuangan. (jr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *