Metro  

Pameran Dagang Lokal IGS 2026: Upaya Makassar Bawa Kain Tenun Daerah Tembus Pasar Internasional

Sesi konferensi pers pada Pameran Dagang Lokal Kota Makassar yang digelar selama dua hari, 23–24 Juni 2026, bertempat di kawasan MNEK Makassar.

Makassar, Radarmakassar.id — Kain tenun khas Sulsawesi Selatan bersiap menembus pasar internasional. Melalui momentum Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Makassar bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Makassar menggandeng Cita Tenun Indonesia (CTI) untuk mendorong produk kerajinan lokal naik kelas ke kancah global.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui Pameran Dagang Lokal Kota Makassar yang digelar selama dua hari, 23–24 Juni 2026, bertempat di kawasan MNEK Makassar.

Kepala Disperindag Kota Makassar, Evy Aprialti, menjelaskan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang unjuk gigi, melainkan ruang konkret untuk mempertemukan pengrajin lokal secara langsung dengan pembeli internasional melalui skema business-to-business (B2B).

Puncaknya akan berlangsung pada Rabu (24/6) siang, di mana para istri duta besar dari berbagai negara dijadwalkan hadir untuk menyaksikan peragaan busana sekaligus melihat langsung proses penenunan.

“Kami mempertemukan langsung para pelaku industri kita dengan buyer luar negeri. Targetnya, produk kerajinan Makassar terutama tenunbukan cuma dikenal cara pembuatannya, tetapi juga sistem pemasarannya dan seluruh materialnya bisa diekspor ke negara masing-masing,” ujar Evy.

Evy menambahkan, para pengrajin yang terlibat dalam pameran ini telah melalui proses kurasi yang ketat. “Binaan kami sangat banyak, namun yang tampil di sini adalah mereka yang memang sudah lolos kurasi dan dinilai sangat layak untuk pasar ekspor,” tegasnya.

Optimisme serupa disampaikan oleh Wakil Ketua Harian II Dekranasda Makassar, Dr. Rosnani,  mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan CTI berawal dari keresahan sekaligus cita-cita besar untuk membangkitkan kembali geliat tenun di Kota Daeng.

“Selama ini ada mindset bahwa menenun itu tidak ekonomis karena prosesnya lama dan rumit. Persepsi itulah yang ingin kita ubah. Melalui program tenun yang kita gagas bersama CTI ini, kami ingin pengrajin lokal mampu memosisikan diri dengan baik dan industri ini kembali bergeliat,” jelas Rosnani.

Langkah ini juga menjadi jawaban atas tantangan kelangkaan pengrajin asli Makassar, di mana saat ini sebagian besar pengrajin justru didominasi dari luar daerah.

Kehadiran Project Officer Cita Tenun Indonesia (CTI), Syamsidar Isa, bersama deretan desainer nasional ternama seperti Didi Budiarjo, Rama Dauhan, dan De Rizki Yanto, memberikan angin segar bagi pengembangan motif lokal.

Syamsidar Isa, menggarisbawahi pentingnya edukasi publik mengenai esensi wastra nusantara. Ia mengingatkan para pelaku industri dan masyarakat untuk cermat dalam menggunakan istilah tekstil tradisional agar tidak membiaskan identitas budaya.

​“Kita kalau bicara tentang wastra, itu kita bicara teknik, bukan sekadar motif. Tenun dan batik memiliki teknik pembuatan yang sepenuhnya berbeda. Kalimat seperti ‘batik tenun’ itu secara terminologi keliru,” tegas Syamsidar Isa.

​Syamsidar menambahkan, CTI mengusung misi utama untuk mengangkat karya pengrajin tenun pedesaan ke ranah modern dengan menyuntikkan wawasan kualitas serta tren pasar masa kini. Melalui pembinaan terpadu selama setahun yang melibatkan tim ahli mulai dari desainer tekstil, desainer pelatihan, hingga perancang busana nasional, CTI berupaya mengubah fungsi tenun yang semula bersifat ritus adat menjadi produk siap pakai dan elemen interior komersial.

​Ia juga mendorong Dekranasda Makassar untuk secara masif menyosialisasikan kekayaan teknik lokal Bugis-Makassar yang sangat langka, salah satunya adalah teknik Sobbi—sebuah metode menenun khas dengan ragam hias helai benang yang dicabut. Syamsidar juga mengingatkan pentingnya pelurusan istilah kain Lipa Sabbe, yang secara harfiah berarti sarung sutra, agar penggunaannya benar-benar merujuk pada material sutra asli demi menjaga kepercayaan konsumen.

Desainer senior Didi Budiarjo menilai, potensi tenun Makassar sangat luar biasa besar karena didukung oleh tradisi yang kuat, sejarah yang tua, serta kekayaan motif yang melimpah. Namun, agar bisa bersaing di pasar global, perlu ada penyesuaian dengan selera pasar modern.

“Perlu ada sedikit penyelarasan dari segi warna, ukuran, maupun fungsinya. Kain tenun tidak boleh hanya terpaku untuk pakaian adat, tapi harus dikembangkan menjadi busana siap pakai (ready-to-wear) yang modern atau bahkan produk interior,” kata Didi.

Didi juga berpesan kepada para pengrajin lokal Makassar agar tidak takut berinovasi dengan tren mode global tanpa kehilangan jati diri.

“Pertahankan kualitas, tetapi bukalah diri terhadap tren warna dan desain. Yang paling penting, jaga keaslian dan cerita  di balik selembar kain tersebut. Itulah nilai tambah yang paling dihargai oleh konsumen internasional,” pungkas Didi. (Jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *