RADARMAKASSAR.co.id — Langit Makassar pagi itu, Kamis (27/8/2026), memancarkan terik yang cukup menyengat di kawasan Underpass Flyover Jalan A.P. Pettarani.
Di antara deru kendaraan yang melintas dan denyut nadi kota yang sibuk, ada sudut pandang lain yang menyejukkan mata: kehadiran para tenaga medis berseragam kepolisian yang berdiri siaga bukan untuk berkonfrontasi, melainkan membawa misi kemanusiaan.
Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan tampak mengambil peran yang berbeda hari itu. Sebanyak delapan personel terlatih yang terbagi dalam dua regu, lengkap dengan dua unit kendaraan taktis bermuatan alat kesehatan (Alkes), tampak berbaris rapi. Mereka bukan sekadar pengaman, melainkan penjaga keselamatan bagi siapa saja yang ada di sana.
Sejak pukul 10.15 WITA, gabungan personel Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar telah membaur dengan suasana lapangan. Di balik ketegasan atribut seragam yang melekat, terselip kesiapsiagaan penuh empati.
Kabiddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol. dr. Muhammad Haris, memimpin langsung persiapan tersebut dengan pendekatan yang menenangkan.
Menurut dia, kehadiran armada medis taktis ini adalah wujud nyata antisipasi demi melindungi warga baik dari kalangan pengunjuk rasa maupun masyarakat umum jika sewaktu waktu membutuhkan pertolongan darurat medis.
“Untuk aksi kali ini, dua kendaraan dilengkapi alat kesehatan dan SDM, setidaknya untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang membutuhkan tindakan medis,” tutur dr. Haris dengan nada tenang.
Hari itu, gelombang aspirasi memang tak terelakkan. Dari catatan lapangan, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM FISH UNM bersama Gerakan Pemuda Kota Makassar diperkirakan berjumlah sekitar 150 orang turun ke jalan menyuarakan tuntutan mendesak agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset segera disahkan.
Sementara itu, puluhan warga lainnya juga menyuarakan hak-hak terkait pembebasan lahan di depan Kantor Gubernur Sulsel.
Di tengah riuh rendah suara pengeras suara dan kepulan semangat para penyampai aspirasi, kehadiran mobil taktis Biddokkes di bawah kolong jembatan underpass menjadi simbol bahwa di negeri ini, perbedaan pendapat dan suara rakyat tetap harus dikawal dengan sentuhan kemanusiaan.
Menutup kesiapsiagaannya pagi itu, dr. Haris menitipkan secercah harapan yang mewakili perasaan banyak orang. Sebuah asa agar ruang demokrasi tetap terjaga hangat tanpa harus mencederai ketenteraman bersama.
“Semoga semua berjalan lancar, yah,” pungkasnya lembut.
Sebuah pengingat sederhana bahwa di balik dinamika jalanan kota, keselamatan dan kedamaian tetaplah menjadi muara yang paling utama. (*)






