Metro  

Hijaukan TPA Antang, Balai Karantina dan Pemkot Makassar Tanam 285 Bibit Pohon

Penanaman pohon digelar di TPA Bintang Lima Antang, Jalan Tamangapa Raya, Senin (5/10), dalam rangka memperingati Hari Karantina ke-149 dan Hari Ulang Tahun ke-3 Badan Karantina Indonesia.

Makassar, Radarmakassar.id – Upaya mengubah wajah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kota Makassar, terus dilakukan. Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Kota Makassar menanam 285 bibit pohon sebagai bagian dari penghijauan kawasan tersebut.

Penanaman pohon digelar di TPA Bintang Lima Antang, Jalan Tamangapa Raya, Senin (5/10), dalam rangka memperingati Hari Karantina ke-149 dan Hari Ulang Tahun ke-3 Badan Karantina Indonesia.

Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, Ir. Sitti Chadidjah mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen pihaknya dalam menjaga kelestarian sumber daya hayati dan lingkungan.

Menurutnya, tugas karantina tidak hanya berkaitan dengan pengawasan di pintu masuk dan keluar seperti bandara, pelabuhan, kantor pos maupun pasar. Namun, juga memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kelestarian sumber daya alam.

“Ini merupakan salah satu komitmen dalam melaksanakan tugas fungsi kami terkait asas kelestarian sumber daya hayati lingkungan dengan melalui penanaman pohon,” ujar Sitti.

Ia menjelaskan, penanaman pohon juga berkaitan dengan tugas karantina dalam mencegah penyebaran penyakit hewan, ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 285 bibit pohon disiapkan untuk ditanam di kawasan TPA Bintang Lima Antang secara bertahap.

Bibit tersebut terdiri dari 100 tabebuya, 50 salam, 25 sirsak, 25 jeruk nipis, 25 trembesi, 10 nangka, 10 rambutan, 10 mangga, 10 sukun, 10 sawo, serta 10 kelengkeng.

Sitti berharap penanaman tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Bibit yang telah ditanam diharapkan dapat dirawat hingga tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Kami ingin mengharapkan adanya menghadirkan wajah di TPA semakin hijau bagi kawasan ini,” katanya.

Ia juga berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong TPA Bintang Lima Antang tidak hanya menjadi kawasan pengelolaan sampah, tetapi berkembang menjadi ruang terbuka hijau baru bagi masyarakat Kota Makassar.

Disamping penanaman pohon, Balai Besar Karantina Sulsel juga akan memberikan kontribusi terkait dengan pemeriksaan kesehatan hewan (sapi) gratis. Ia menyenut di Balai Karantina banyak dokter-dokter hewan yang akan membantu untuk memeriksa jika Wali Kota mempercayakan untuk secara rutin akan melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan sapi tersebut.

​”Karena kita meyakini hewan-hewan ini akan dikonsumsi oleh masyarakat, akan diperjualbelikan, sehingga apa yang kondisi kesehatan hewan ini betul-betul dipastikan betul-betul sehat untuk dikonsumsi oleh masyarakat, khususnya di Kota Makassar ini,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengapresiasi kolaborasi Balai Besar Karantina dalam mendukung penghijauan kawasan TPA Antang.

Munafri mengatakan, TPA Antang saat ini tengah mengalami transformasi besar-besaran, dari sistem open dumping menuju controlled landfill atau sanitary landfill.

“TPA ini sekarang ini dalam masa transformasi yang besar-besaran. Bagaimana proses peralihan dari TPA open dumping menuju ke controlled landfill atau sanitary landfill yang kita maksimalkan,” ujar Munafri.

Ia menjelaskan, perubahan sistem tersebut dilakukan agar sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan. Ke depan, hanya sampah residu yang diharapkan masuk ke kawasan tersebut.

Pemkot Makassar juga terus mendorong masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari rumah. Menurut Munafri, upaya tersebut penting untuk memperpanjang usia TPA sekaligus mengurangi beban pengelolaan sampah.

Munafri menyebut sistem pengelolaan yang diterapkan saat ini mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan di sekitar TPA. Salah satunya melalui penggunaan cover soil untuk menutup bukaan sampah sehingga persoalan bau dapat dikurangi.

Selain penghijauan, Pemkot Makassar juga menyiapkan pengelolaan sampah organik dari pasar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

“Sekarang ini adalah bagaimana sapi-sapi yang selama ini bergaul dengan sampah-sampah yang ada di atas, makan dengan tercampur sampahnya, sehingga mikroplastik sangat memungkinkan untuk masuk menjadi bagian dari konsumsi mereka, lalu minum air lindi. Menurut saya ini hal yang sangat tidak sehat,” jelasnya.

Karena itu, sampah organik dari pasar-pasar di Kota Makassar diarahkan untuk menjadi pakan ternak. Munafri menyebut volumenya mencapai sekitar 30 hingga 40 ton per hari.

Dengan pengelolaan tersebut, peternak di sekitar kawasan TPA diharapkan dapat mengurangi biaya pakan sekaligus memperoleh nilai tambah dari pemanfaatan sampah organik.

Lebih jauh, Munafri menargetkan kawasan TPA Antang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengelolaan sampah, tetapi juga dapat berkembang menjadi kawasan hutan kota.

Menurutnya, kawasan TPA yang luasnya sekitar 21 hektare memiliki potensi untuk ditata dengan berbagai jenis tanaman, baik pohon pelindung maupun tanaman buah.

“Ini akan menjadi sebuah kawasan konservasi baru untuk memastikan kawasan yang kurang lebih terdiri dari 21 hektar ini akan menjadi salah satu hutan kota yang ada di Kota Makassar,” pungkasnya. (Jar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *