Radarmakassar.id – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu-RI), Anis Matta menegaskan dukungan pemerintah Indonesia terhadap kemerdekaan negara Palestina dan merupakan utang sejarah bagi bangsa Indonesia yang harus dicicil.
Hal ini disampaikan Anis saat menghadiri seminar internasional dengan tema “Towards a Two-State Solution: Peran Kunci Presiden Prabowo Subianto dalam Mewujudkan Perdamaian di Gaza” yang digelar di Auditorium UIN Alauddin Makassar pada Senin (17/11). Seminar ini juga dihadiri Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar.
Ia mengatakan, dukungan Indonesia kepada Palestina adalah dukungan yang dasarnya datang dari amanat konstitusi disamping dari kesadaran bangsa Indonesia bahwa hal itu adalah kewajiban agama.
“Tentu saja yang sekarang lebih penting ini adalah kewajiban kemanusiaan tapi secara khusus ini adalah utang sejarah yang belum lunas sejak Presiden Soekarno dulu yang mengadakan Konferensi Asia Afrika , dengan narasi tunggal melawan imperialisme dan mendukung proses kemerdekaan semua bangsa-bangsa yang terlibat,” katanya saat konfrensi pers.
“Sejak waktu itu sampai sekarang tinggal satu negara yang belum merdeka yang merupakan utang sejarah yang harus kita cicil yaitu Palestina,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan, Anis mengatakan bahwa pemerintah telah banyak memberikan dukungan baik secara politik terlebih bantuan moral dan juga bantuan kemanusiaan.
“Khusus untuk bantuan kemanusiaan ini beberapa waktu yang lalu bulan September Alhamdulillah pemerintah sudah mengirimkan lagi bantuan sebesar 12 juta dolar untuk membangun dapur umum di Gaza dan sebelumnya sudah ada sekitar 24 juta sudah direalisasi juga teman-teman dari NJO,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah juga mengirimkan bantuan melalui udara sekitar 1.200 ton makanan. Tidak sampai di situ, Presiden Prabowo lanjut Anis juga akan mengirimkan bantuan pasukan perdamaian sebanyak 20 ribu jika diperlukan. Pasukan itu merupakan tim dokter dan tim Zenia dari TNI. Hanya saja sampai saat ini belum ada bentuk yang disepakati secara utuh dan masih tahap negosiasi.
“Tetapi prinsip dasarnya kita siap mengirimkan pasukan atas kesepakatan bersama semua pihak yang terlibat. Saya kira ini hal yang paling baru dalam langka yang sudah dilakukan oleh presiden Prabowo yang membedakannya dengan langkah-langkah sebelumnya,” kata Anis.
Menurut Anis, sejak dua tahun terakhir ini, konflik di Gaza sudah menjadi genosida yang mrnjadi tontonan sehari-hari dan jika bangsa-bangsa gagal memberikan penyelesaian atas genosida ini, maka akan menjadi tonggak runtuhnya sistem internasional, runtuhnya hukum internasional dan runtuhnya lembaga-lembaga multilateral termasuk diantaranya adalah PBB karena dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan di Gaza.
“Konsep inilah yang menjadi konsen seluruh pemimpin negara saat ini karena ini adalah ancaman terhadap tatanan global, bukan lagi masalah Palestina tetapi sekarang sudah menjadi masalah kemanusiaan yang melibatkan hampir semua negara,” bebernya.
“Ini perkembangan pentingnya dan dalam konteks inilah presiden Prabowo hadir memberikan push tekanan yang lebih kuat lagi dengan kesediaan mengirimkan pasukan perdamaian,” pungkas Anis. (jar)






