Makassar, Radarmakassar.id – Kualitas udara di Kota Makassar memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat. Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengantisipasi dampak pencemaran udara terhadap kesehatan.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, konsentrasi partikel halus PM2,5 telah melampaui 150 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut terpantau sejak Selasa malam dan masih berlanjut hingga Rabu pagi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, mengatakan langkah antisipasi tersebut dilakukan setelah Pemkot Makassar menggelar rapat bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan BMKG untuk memvalidasi kondisi kualitas udara sekaligus mengidentifikasi sumber pencemaran.
“BMKG sudah menyampaikan bahwa kualitas udara di Kota Makassar masuk kategori sangat tidak sehat dalam dua hari ini. Sehingga kita berupaya memberikan langkah-langkah antisipasi,” ujar Zulkifly, Rabu (14/10).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, penurunan kualitas udara mulai terjadi sejak 30 September. Kondisi tersebut dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah, termasuk Pangkep, kemudian titik kebakaran di Bone dan Soppeng pada Oktober.
Asap kebakaran dari wilayah lain, termasuk Papua dan Maluku, juga turut berkontribusi terhadap pencemaran udara di Makassar. Pergerakan angin dari timur hingga tenggara membawa partikel asap menuju wilayah Sulawesi Selatan.
Meski sebagian besar pencemaran disebut berasal dari kiriman asap, Zulkifly mengakui aktivitas kendaraan bermotor di Makassar turut menambah beban polusi udara.
“Sebagian besar sumber pencemaran ini merupakan kiriman. Namun, di Kota Makassar juga terdapat polusi dari banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang,” jelasnya.
Siswa Tidak Diliburkan
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkot Makassar memilih memperketat langkah pencegahan tanpa langsung meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Zulkifly mengatakan, berdasarkan masukan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan BMKG, kondisi saat ini belum dinilai sebagai kedaruratan medis yang mengharuskan sekolah diliburkan.
Namun, aktivitas siswa di luar ruangan diminta dikurangi. Pihak sekolah juga didorong memperbanyak kegiatan di dalam ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara.
“Untuk sementara, siswa belum diliburkan. Kita mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau kondisi ini berkepanjangan, tentu akan kita evaluasi kembali,” tegasnya.
Pemkot Makassar juga mulai membagikan masker kepada masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan lebih terhadap paparan polusi.
Dinas Kesehatan ditunjuk sebagai sektor utama dalam pembagian masker, termasuk di sekolah-sekolah. Zulkifly menyebut stok masker yang tersedia dinilai mencukupi untuk mendukung langkah antisipasi tersebut.
Selain itu, Dinas Kesehatan diminta menyusun laporan harian untuk memantau perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Makassar. Berdasarkan laporan awal dari puskesmas, kata dia, belum terlihat peningkatan kasus ISPA yang signifikan akibat kondisi pencemaran udara saat ini.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi risiko kesehatan tetap perlu diwaspadai apabila kualitas udara buruk berlangsung dalam waktu lama.
Jarak Pandang Turun Jadi 2 Kilometer
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, mengungkapkan kondisi kualitas udara di Makassar mengalami penurunan signifikan. Konsentrasi PM2,5 yang melampaui 150 mikrogram per meter kubik menjadi indikator memburuknya kualitas udara.
Dampaknya juga terlihat dari penurunan jarak pandang di wilayah Makassar. Berdasarkan laporan pengamatan di stasiun meteorologi bandara, jarak pandang saat ini berada di kisaran 2.000 meter atau dua kilometer. Angka tersebut menurun dibandingkan kondisi sebelumnya saat kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat, dengan jarak pandang sekitar empat kilometer.
“Kalau kondisi normal tanpa gangguan kabut asap, jarak pandang bisa di atas 10 kilometer. Sekarang turun menjadi sekitar dua kilometer,” ungkap Rizky.
Ia menjelaskan, sebaran asap berdasarkan pemodelan BMKG telah menjangkau sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, termasuk Makassar.
Selain sumber polusi dari kendaraan bermotor, peningkatan konsentrasi PM2,5 juga dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan serta sejumlah wilayah di luar provinsi.
Di Sulawesi Selatan, sumber asap yang relatif dekat dengan Makassar antara lain berasal dari Soppeng dan Bone. Sementara dari luar provinsi, sebaran asap juga dipengaruhi kebakaran di wilayah Maluku, termasuk Saumlaki, serta Papua Selatan, khususnya Merauke.BMKG mencatat terdapat lebih dari lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Sulawesi Selatan.
Rizky mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker, termasuk masker bedah, untuk mengurangi paparan polutan.
Kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan ibu hamil, diminta meningkatkan kewaspadaan. Terkait kapan kualitas udara akan kembali membaik, BMKG belum dapat memastikan waktunya. Kondisi udara sangat bergantung pada berkurangnya sumber polutan dan perubahan kondisi atmosfer.
“Kami mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. Khususnya kelompok rentan, perlu lebih waspada,” pungkasnya.
Untuk memudahkan masyarakat memantau kondisi tersebut, Pemkot Makassar juga akan berkoordinasi dengan BMKG dan Dinas Komunikasi dan Informasi Makassar guna menyajikan informasi kualitas udara harian melalui aplikasi Lontara Plus. (Jar)






