Makasar, Radarmakassar.id – Kualitas udara di Kota Makassar masih perlu diwaspadai menyusul tingginya konsentrasi partikel halus PM2,5 yang sempat mencapai kategori sangat tidak sehat. Meski hasil pengamatan terbaru menunjukkan penurunan, BMKG mengingatkan kondisi tersebut masih berpotensi bertahan selama polutan asap dari daerah lain masih terpantau.
Ketua Tim Kerja Klimatologi BMKG Makassar, Muflihah, mengungkapkan hasil pengamatan kualitas udara di Stasiun Klimatologi BMKG Makassar pada Kamis (15/10) pukul 08.00 Wita menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada angka 76,5.
Angka tersebut menurun dibandingkan pengamatan sebelumnya. Dimana, pada 14 Oktober, konsentrasi PM2,5 sempat meningkat hingga di atas 150, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
“Karena ini fluktuatif, kita tidak bisa mengatakan penurunannya berapa poin. Kondisinya bisa berubah dari jam ke jam,” jelas Muflihah dalam acar Cofee Morning Dinas Kominfo dengan tema “Kondisi perkembangan pencemaran udara dan kabut asap di Kota Makasar, Kamis (15/10).
Menurut Muflihah, kondisi kualitas udara dalam beberapa hari ke depan masih bergantung pada keberadaan polutan asap yang terpantau melalui satelit. Selama asap kiriman masih ada, kualitas udara berpotensi berada pada kondisi yang kurang lebih sama.
Arah angin yang masih bertiup dari timur juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau pergerakan polutan.
Di sisi lain, BMKG, kata Muflihah belum memandang operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah yang diperlukan saat ini. Operasi tersebut umumnya dilakukan ketika kondisi sudah membutuhkan penanganan khusus, seperti kabut asap pekat di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Terkait potensi hujan?, BMKG memprakirakan hujan di Makassar berpeluang turun pada November dengan intensitas rendah hingga sedang. Sementara itu, awal musim hujan untuk Kota Makassar diprakirakan berlangsung pada awal Desember.
Mengantisipasi dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat, Pemerintah Kota Makassar mulai memperkuat langkah pencegahan melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemangku kepentingan.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Dr. Muhammad Fadli, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Makassar untuk mengoordinasikan penanganan dampak kabut asap dan polusi udara.
Sejumlah instansi dilibatkan, mulai dari BPBD, Dinas Kesehatan, Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, hingga Dinas Komunikasi dan Informatika. BMKG juga menjadi rujukan dalam penyediaan informasi kondisi cuaca dan kualitas udara.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah mendistribusikan masker kepada masyarakat, terutama anak-anak, lanjut usia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru.
“Kami memprioritaskan kelompok rentan. Anak-anak menjadi perhatian utama, kemudian lansia dan masyarakat yang sudah memiliki penyakit pernapasan,” ujar Fadli.
Distribusi masker dilakukan melalui sejumlah jalur, termasuk jaringan Kelurahan Tanggap Bencana (Kaltana) yang tersebar di wilayah Makassar. BPBD juga menyiapkan stok masker untuk terus disalurkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Selain pembagian masker, Pemkot Makassar mengajak masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Kegiatan olahraga yang biasa dilakukan di luar rumah untuk sementara disarankan dialihkan ke dalam ruangan selama kualitas udara masih perlu diwaspadai.
BPBD bersama PMI dan Dinas Pemadam Kebakaran juga menginisiasi penyemprotan menggunakan eco enzyme sebagai bagian dari upaya penanganan di lapangan.
Fadli menegaskan, penetapan status kedaruratan belum dapat dilakukan secara terburu-buru karena harus mengacu pada kriteria dan standar yang berlaku. Pemerintah akan mengevaluasi perkembangan kondisi bersama seluruh pemangku kepentingan sebelum menentukan langkah lanjutan. (Jar)






